Profil AMD

FIXkecilInspirasi Ilahiyah

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa yang ta’at kepada Allah dan Rasulnya maka ia telah meraih kemenangan yang besar” (Al-Ahzab : 70-71)

Semua Bermula….

03 November 2006 / 23 Ramadhan 1427 H

Latar Belakang:

  1. Itikad untuk membangun wadah yang solid guna memagari moralitas kaum muda Islam sekaligus membentuk kepribadian yang Islami.
  2. Itikad untuk membentuk komunitas pembelajar Muslim.
  3. Itikad untuk menggalang kekuatan muda Islam guna menyebarkan cahaya Islam.
  4. Itikad untuk membangun gerakan bersama dari kekuatan muda Islam untuk menegakkan Islam.

Peluang Kerja Dakwah Kampus dan Kemasyarakatan

  • Kompas (Direction)
  • Pagar (Protection)
  • Tali (Integration)
  • Bengkel (Reparation)
  • Pabrik (Building and Duplication)
  • Madu (Satisfaction)
  • Cermin (Introspection)
  • nPecut (Motivation)
  • Tangga (Progresifity and Achievement)
  • Alarm (Awareness)
  • Senjata (Powerness)
  • Bendera (Islamic Glory)

VISI

Menjadi institusi Muslim muda yang profesional dan progresif guna mewujudkan komunitas Bertauhid dalam rangka mewarnai realitas kehidupan dengan Dinul Islam.

MISI

  • Membentuk basis organisasi yang mapan dan solid
  • Mendesain program kerja yang edukatif, progresif, dan akomodatif yang berbasis pada nilai-nilai Islam.
  • Membangun dan terus memelihara kultur pembelajar Islam bagi Muslim muda
  • Membangun kemitraan strategis dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi.
  • Membangun pola pembinaan insani yang merujuk pada prinsip-prinsip Islam

Empat Kata Kunci Al-Mudarris

  1. Wahana Studi Islam
  2. Wahana Riset Islam
  3. Wahana Da’wah Islam
  4. Wahana Aliansi Muda Islam

Dustur Ilahi

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya selain orang yang menyeru kepada Allah, beramal shalih, dan mengatakan bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Muslim” (Fushilat : 33)

57 tanggapan

7 02 2012
beti

Assalamu’alaikum,,,
Salam sMngt bwt ikhwah Al-mudarris, Bismillah….kita sama2 berjuang dengan hanya berharap ridhoNYA,

23 05 2011
Okia wae lah

Wah, baru tau saya klo Almudaris punya situs web… good…
lanjutkan…!
b>,< d

28 01 2011
makhluklemah

Assalamu’alaikum..
semoga dapat berbagi ilmu melalui blog ini.

16 11 2010
An'NISA

Buat seluruh saudara q di almudarris, Selamat hari raya idul Adha 10 dzulhijah 1431 H. Mohon maaf lahir dan batin jika da kesalahan perkataan atw perbuatan.

9 11 2010
An'NISA

Asslamuallaikum….
tuk akhwat2 almudarris,
sy sayang sekali ma kalian semua,
serasa hidup ini hampa tanpa kalian,
walaupun kalian jauh namun tetap dekat dihati….
tetap jaga ukhuwah dan selalu komunikasi.
agar jalan da’wah ini bz qt dijalani dg mudah. amiiiinnn……….
I LOVE YOU…..

27 11 2010
almudarris

Aamiin. I love you, too.

2 02 2011
Yusuf Al-Hijrah

tseeehhh.. lope lope-an lah..

(weiss, ga bolek koment aneh2 dsini ntr bahaya.. wkwkwkwkaabuur)

5 09 2010
fendi

Hakikat Dakwah Salafiyah
Selasa, 17-Oktober-2006, Penulis: Al Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

Pertanyaan :

Berkembangnya dakwah Salafiyah dikalangan masyarakat dengan pembinaan yang mengarah kepada perbaikan ummat di bawah tuntunan Rasulullah shollallahu ‘alahi wa alihi wa sallam adalah suatu hal yang sangat disyukuri. Akan tetapi di sisi lain, orang-orang menyimpan dalam benak mereka persepsi yang berbeda-beda tentang pengertian Salafiyah itu sendiri sehingga bisa menimbulkan kebingunan bagi orang-orang yang mengamatinya, maka untuk itu dibutuhkan penjelasan yang jelas tentang hakikat Salafiyah itu. Mohon keterangannya !

Jawab :
Salafiyah adalah salah satu penamaan lain dari Ahlussunnah Wal Jama’ah yang menunjukkan ciri dan kriteria mereka.
Salafiyah adalah pensifatan yang diambil dari kata سَلَفٌ (Salaf) yang berarti mengikuti jejak, manhaj dan jalan Salaf. Dikenal juga dengan nama سَلَفِيُّوْنَ (Salafiyyun). Yaitu bentuk jamak dari kata Salafy yang berarti orang yang mengikuti Salaf. Dan juga kadang kita dengar penyebutan para ‘ulama Salaf dengan nama As-Salaf Ash-Sholeh (pendahulu yang sholeh).

Dari keterangan di atas secara global sudah bisa dipahami apa yang dimaksud dengan Salafiyah. Tapi kami akan menjelaskan tentang makna Salaf menurut para ‘ulama dengan harapan bisa mengikis anggapan/penafsiran bahwa dakwah Salafiyah adalah suatu organisasi, kelompok, aliran baru dan sangkaan-sangkaan lain yang salah dan menodai kesucian dakwah yang dibawa oleh Rasulullah shollallahu ‘alahi wa alihi wa sallam ini.
Kata Salaf ini mempunyai dua definisi ; dari sisi bahasa dan dari sisi istilah.

Definisi Salaf secara bahasa
Berkata Ibnu Manzhur dalam Lisanul ‘Arab : “Dan As-Salaf juga adalah orang-orang yang mendahului kamu dari ayah-ayahmu dan kerabatmu yang mereka itu di atas kamu dari sisi umur dan keutamaan karena itulah generasi pertama dikalangan tabi’in mereka dinamakan As-Salaf Ash-Sholeh”.
Berkata Al-Manawi dalam At-Ta’arif jilid 2 hal.412 : “As-Salaf bermakna At-Taqoddum (yang terdahulu). Jamak dari salaf adalah أََسْلاَفٌ (aslaf)”.
Masih banyak rujukan lain tentang makna salaf dari sisi bahasa yang ini dapat dilihat dalam Mauqif Ibnu Taimiyyah minal ‘asya’irah jilid 1 hal.21.

Jadi arti Salaf secara bahasa adalah yang terdahulu, yang awal dan yang pertama. Mereka dinamakan Salaf karena mereka adalah generasi pertama dari ummat Islam.

Definisi Salaf secara Istilah
Istilah Salaf dikalangan para ‘ulama mempunyai dua makna ; secara khusus dan secara umum.

Pertama : Makna Salaf secara khusus adalah generasi permulaan ummat Islam dari kalangan para shahabat, Tabi’in (murid-murid para Shahabat), Tabi’ut Tabi’in (murid-murid para Tabi’in) dalam tiga masa yang mendapatkan kemulian dan keutamaan dalam hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim dan lain-lainnya dimana Rasulullah shollallahu ‘alahi wa alihi wa sallam menyatakan :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian generasi setelahnya kemudian generasi setelahnya”.

Makna khusus inilah yang diinginkan oleh banyak ‘ulama ketika menggunakan kalimat Salaf dan saya akan menyebutkan beberapa contoh dari perkataan para ‘ulama yang mendefinisikan Salaf dengan makna khusus ini atau yang menggunakan istilah Salaf dan mereka inginkan dengannya makna Salaf secara khusus.

Berkata Al-Bajury dalam Syarah Jauharut Tauhid hal.111 : “Yang dimaksud dengan salaf adalah orang-orang yang terdahulu dari para Nabi dan para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka”.

Berkata Al-Qolasyany dalam Tahrirul Maqolah Syarah Ar-Risalah : “As-Salaf Ash-Sholeh yaitu generasi pertama yang mapan di atas ilmu, yang mengikuti petunjuk Nabi shollahu ‘alahi wa alihi wa sallam lagi menjaga sunnah-sunnah beilau. Allah memilih mereka untuk bershahabat dengan Nabi-Nya dan memilih mereka untuk menegakkan agama-Nya dan mereka itulah yang diridhoi oleh para Imam ummat (Islam) dan mereka berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad dan mereka mencurahkan (seluruh kemampuan mereka) dalam menasehati ummat dan memberi manfaat kepada mereka dan mereka menyerahkan diri-diri mereka dalam menggapai keridhoan Allah”.

Dan berkata Al-Ghazaly memberikan pengertian terhadap kata As-Salaf dalam Iljamul ‘Awwam ‘An ‘ilmil Kalam hal.62 : “Yang saya maksudkan dengan salaf adalah madzhabnya para shahabat dan Tabi’in”.

Lihat Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy hal.31 dan Bashoir Dzawisy Syaraf Bimarwiyati Manhaj As-Salaf hal.18-19.

Berkata Abul Hasan Al-Asy’ary dalam Kitab Al-Ibanah Min Ushul Ahlid Diyanah hal.21 : “Dan (diantara yang) kami yakini sebagai agama adalah mencintai para ‘ulama salaf yang mereka itu telah dipilih oleh Allah ‘Azza Wa Jalla untuk bershahabat dengan Nabi-Nya dan kami memuji mereka sebagaimana Allah memuji mereka dan kami memberikan loyalitas kepada mereka seluruhnya”.

Berkata Ath-Thohawy dalam Al-‘Aqidah Ath-Thohawiyah : “Dan ulama salaf dari generasi yang terdahulu dan generasi yang setelah mereka dari kalangan Tabi’in (mereka adalah) Ahlul Khair (ahli kebaikan) dan Ahli Atsar (hadits) dan ahli fiqh dan telaah (peneliti), tidaklah mereka disebut melainkan dengan kebaikan dan siapa yang menyebut mereka dengan kejelekan maka dia berada di atas selain jalan (yang benar)”.

Dan Al-Lalika`i dalam Syarah Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah Wal Jama’ah jilid 2 hal.334 ketika beliau membantah orang yang mengatakan bahwa Al-Quro dialah yang berada dilangit, beliau berkata : “Maka dia telah menyelisihi Allah dan Rasul-Nya dan menolak mukjizat Nabi-Nya dan menyelisihi para salaf dari kalangan Shahabat dan tabi’in dan orang-orang setelahnya dari para ‘ulama ummat ini”.

Berkata Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman jilid 2 hal.251 tatkala beliau menyebutkan pembagian ilmu, beliau menyebutkan diantaranya : “Dan mengenal perkataan-perkataan para salaf dari kalangan shahabat, Tabi’in dan orang-orang setelah mereka”.

Dan berkata Asy-Syihristany dalam Al-Milal Wa An-Nihal jilid 1 hal.200 : “Kemudian mengetahui letak-letak ijma’ (kesepakatan) shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in dari Salafus Sholeh sehingga ijtihadnya tidak menyelisihi ijma’ (mereka)”.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Bayan Talbis Al-Jahmiyah jilid 1 hal.22 : “Maka tidak ada keraguan bahwasanya kitab-kitab yang terdapat di tangan-tangan manusia menjadi saksi bahwasanya seluruh salaf dari tiga generasi pertama mereka menyelesihinya”.

Dan berkata Al-Mubarakfury dalam Tuhfah Al-Ahwadzy jilid 9 hal.165 : “…Dan ini adalah madzhab Salafus Sholeh dari kalangan shahabat dan Tabi’in dan selain mereka dari para ‘ulama -mudah-mudahan Allah meridhoi mereka seluruhnya-”.

Dan hal yang sama dinyatakan oleh Al-’Azhim Abady dalam ‘Aunul Ma’bud jilid 13 hal.7.

Kedua : Makna salaf secara umum adalah tiga generasi terbaik dan orang-orang setelah tiga generasi terbaik ini, sehingga mencakup setiap orang yang berjalan di atas jalan dan manhaj generasi terbaik ini.

Dan berkata Al-’Allamah Muhammad As-Safariny Al-Hambaly dalam Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyyah Wa Sawathi’ Al-Asrar Al-Atsariyyah jilid 1 hal.20 : “Yang diinginkan dengan madzhab salaf yaitu apa-apa yang para shahabat yang mulia -mudah-mudahan Allah meridhoi mereka- berada di atasnya dan para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik dan yang mengikuti mereka dan para Imam agama yang dipersaksikan keimaman mereka dan dikenal perannya yang sangat besar dalam agama dan manusia menerima perkataan-perkataan mereka…”.

Berkata Ibnu Abil ‘Izzi dalam Syarah Al ‘Aqidah Ath-Thohawiyah hal.196 tentang perkataan Ath-Thohawy bahwasanya Al-Qur`an diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala : “Yakni merupakan perkataan para shahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik dan mereka itu adalah Salafus Sholeh”.

Dan berkata Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzan dalam Nazharat Wa Tu’uqqubat ‘Ala Ma Fi Kitab As-Salafiyah hal.21 : “Dan kata Salafiyah digunakan terhadap jama’ah kaum mukminin yang mereka hidup di generasi pertama dari generasi-generasi Islam yang mereka itu komitmen di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dari kalangan shahabat Muhajirin dan Anshor dan yang mengikuti mereka dengan baik dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam mensifati mereka dengan sabdanya : “Sebaik-baik manusia adalah zamanku kemudian zaman setelahnya kemudian zaman setelahnya….”.

Dan beliau juga berkata dalam Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘An As`ilah Al-Manahij Al-Jadidah hal.103-104 : “As-Salafiyah adalah orang-orang yang berjalan di atas Manhaj Salaf dari kalangan Shahabat dan tabi’in dan generasi terbaik, yang mereka mengikutinya dalam hal aqidah, manhaj, dan metode dakwah”.

Dan berkata Syaikh Nashir bin ‘Abdil Karim Al-‘Aql dalam Mujmal Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah Wal Jama’ah hal.5 : “As-Salaf, mereka adalah generasi pertama ummat ini dari para shahabat, tabi’in dan imam-imam yang berada di atas petunjuk dalam tiga generasi terbaik pertama. Dan kalimat As-Salaf juga digunakan kepada setiap orang yang berada pada setelah tiga generasi pertama ini yang meniti dan berjalan di atas manhaj mereka”.

Asal Penamaan Salaf Dan Penisbahan Diri Kepada Manhaj Salaf

Asal penamaan Salaf dan penisbahan diri kepada manhaj Salaf adalah sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam kepada putrinya Fathimah radihyallahu ‘anha :

فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ

“Karena sesungguhnya sebaik-baik salaf bagi kamu adalah saya”. Dikeluarkan oleh Bukhary no.5928 dan Muslim no.2450.

Maka jelaslah bahwa penamaaan salaf dan penisbahan diri kepada manhaj Salaf adalah perkara yang mempunyai landasan (pondasi) yang sangat kuat dan sesuatu yang telah lama dikenal tapi karena kebodohan dan jauhnya kita dari tuntunan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, maka muncullah anggapan bahwa manhaj salaf itu adalah suatu aliran, ajaran, atau pemahaman baru, dan anggapan-anggapan lainnya yang salah.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa jilid 4 hal 149 : “Tidak ada celaan bagi orang yang menampakkan madzhab salaf dan menisbahkan diri kepadanya dan merujuk kepadanya, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan (para ulama). Karena sesungguhnya madzhab salaf itu adalah tak lain kecuali kebenaran”.

Berikut ini saya akan memberikan beberapa contoh untuk menunjukkan bahwa penggunaan nama salaf sudah lama dikenal.

Berkata Imam Az-Zuhry (wafat 125 H) tentang tulang belulang bangkai seperti bangkai gajah dan lainnya : “Saya telah mendapati sekelompok dari para ulama salaf mereka bersisir dengannya dan mengambil minyak darinya, mereka menganggap (hal tersebut) tidak apa-apa”. Lihat : Shohih Bukhary bersama Fathul Bary jilid 1 hal.342.

Tentunya yang diinginkan dengan ‘ulama salaf oleh Az-Zuhry adalah para shahabat karena Az-Zuhry adalah seorang Tabi’i (generasi setelah shahabat).

Dan Sa’ad bin Rasyid (wafat 213 H) berkata : “Adalah para salaf, lebih menyenangi tunggangan jantan karena lebih cepat larinya dan lebih berani”. Lihat : Shohih Bukhary dengan Fathul Bary jilid 6 hal.66 dan Al-Hafizh menafsirkan kata salaf : “Yaitu dari shahabat dan setelahnya”.

Berkata Imam Bukhary (wafat 256 H) dalam Shohihnya dengan Fathul Bary jilid 9 hal.552 : “Bab bagaimana para ‘ulama salaf berhemat di rumah-rumah mereka dan di dalam perjalanan mereka dalam makanan, daging dan lainnya”.

Imam Ibnul Mubarak (wafat 181 H) berkata : “Tinggalkanlah hadits ‘Amr bin Tsabit karena ia mencerca para ‘ulama salaf”. Baca : Muqoddimah Shohih Muslim jilid 1 hal.16.

Tentunya yang diinginkan dengan kata salaf oleh Imam Bukhary dan Ibnul Mubarak tiada lain kecuali para shahabat dan tabi’in.

Dan juga kalau kita membaca buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan nasab, akan didapatkan para ’ulama yang menyebutkan tentang nisbah Salafy (penisbahan diri kepada jalan para ‘ulama salaf), dan ini lebih memperjelas bahwa nisbah kepada manhaj salaf juga adalah sesuatu yang sudah lama dikenal dikalangan para ‘ulama.

Berkata As-Sam’any dalam Al-Ansab jilid 3 hal.273 : “Salafy dengan difathah (huruf sin-nya) adalah nisbah kepada As-Salaf dan mengikuti madzhab mereka”.

Dan berkata As-Suyuthy dalam Lubbul Lubab jilid 2 hal.22 : “Salafy dengan difathah (huruf sin dan lam-nya) adalah penyandaran diri kepada madzhab As-Salaf”.

Dan saya akan menyebutkan beberapa contoh para ‘ulama yang dinisbahkan kepada manhaj (jalan) para ‘ulama salaf untuk menunjukkan bahwa mereka berada diatas jalan yang lurus yang bersih dari noda penyimpangan :

1. Berkata Imam Adz-Dzahaby dalam Siyar A’lam An-Nubala` jilid 13 hal.183 setelah menyebutkan hikayat bahwa Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawy rahimahullah menghina ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu : “Kisah ini terputus, Wallahu A’lam. Dan saya tidak mengetahui Ya’qub Al-Fasawy kecuali beliau itu adalah seorang Salafy, dan beliau telah mengarang sebuah kitab kecil tentang As-Sunnah”.

2. Dan dalam biografi ‘Utsman bin Jarzad beliau berkata : “Untuk menjadi seorang Muhaddits (ahli hadits) diperlukan lima perkara, kalau satu perkara tidak terpenuhi maka itu adalah suatu kekurangan. Dia memerlukan : Aqal yang baik, agama yang baik, dhobth (hafalan yang kuat), kecerdikan dalam bidang hadits serta dikenal darinya sifat amanah”.

Kemudian Adz-Dzahaby mengomentari perkataan tersebut, beliau berkata : “Amanah merupakan bagian dari agama dan hafalan bisa masuk kepada kecerdikan. Adapun yang dibutuhkan oleh seorang hafizh (penghafal hadits) adalah : Dia harus seorang yang bertaqwa, pintar, ahli nahwu dan bahasa, bersih hatinya, senantiasa bersemangat, seorang salafy, cukup bagi dia menulis dengan tangannya sendiri 200 jilid buku hadits dan memiliki 500 jilid buku yang dijadikan pegangan dan tidak putus semangat dalam menuntut ilmu sampai dia meninggal dengan niat yang ikhlas dan dengan sikap rendah diri. Kalau tidak memenuhi syarat-syarat ini maka janganlah kamu berharap”. Lihat dalam Siyar A’lam An-Nubala` jilid 13 hal.280.

3. Dan Adz-Dzahaby berkata tentang Imam Ad-Daraquthny : “Beliau adalah orang yang tidak akan pernah ikut serta mempelajari ilmu kalam (ilmu mantik) dan tidak pula ilmu jidal (ilmu debat) dan beliau tidak pernah mendalami ilmu tersebut, bahkan beliau adalah seorang salafy”. Baca Siyar A’lam An-Nubala`jilid 16 hal.457.

4. Dan dalam Tadzkirah Al-Huffazh jilid 4 hal.1431 dalam biografi Ibnu Ash-Sholah, berkata Imam Adz-Dzahaby : “Dan beliau adalah seorang Salafy yang baik aqidahnya”. Dan lihat : Thobaqot Al-Huffazh jilid 2 hal.503 dan Siyar A’lam An-Nubala` jilid 23 hal.142.

5. Dalam biografi Imam Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Isa bin ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah Al-Maqdasy, Imam Adz-Dzahaby berkata : “Beliau adalah seorang yang terpercaya, tsabt (kuat hafalannya), pandai, seorang Salafy…”. Baca Siyar A’lam An-Nubala` jilid 23 hal.18.

6. Dan dalam Biografi Abul Muzhoffar Ibnu Hubairah, Imam Adz-Dzahaby berkata : “Dia adalah seorang yang mengetahui madzhab dan bahasa arab dan ilmu ‘arudh, seorang salafy, atsary”. Baca Siyar A’lam An-Nubala` jilid 20 hal.426.

7. Berkata Imam Adz-Dzahaby dalam biografi Imam Az-Zabidy : “Dia adalah seorang Hanafy, Salafy”. Baca Siyar A’lam An-Nubala`jilid 20 hal.316.

8. Dan dalam Biografi Musa bin Ibrahim Al-Ba’labakky, Imam Adz-Dzahaby berkata : “Dan demikian pula beliau seorang perendah hati, seorang Salafy”. Lihat : Mu’jamul Muhadditsin hal.283.

9. Dan dalam biografi Muhammad bin Muhammad Al-Bahrony, Imam Adz-Dzahaby Berkata : “Dia seorang yang beragama, orang yang sangat baik, seorang Salafy”. Lihat : Mu’jam Asy-Syuyukh jilid 2 hal.280 (dinukil dari Al-Ajwibah Al-Mufidah hal.18).

10. Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam Lisanul Mizan Jilid 5 hal.348 dalam biografi Muhammad bin Qasim bin Sufyan Abu Ishaq : “Dan Ia adalah Seorang yang bermadzhab Salafy”.

Penamaan-Penamaan Lain Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Sebelum terjadi fitnah bid’ah perpecahan dan perselisihan dalam ummat ini, ummat Islam tidak dikenal kecuali dengan nama Islam dan kaum muslimin, kemudian setelah terjadinya perpecahan dan munculnya golongan-golongan sesat yang mana setiap golongan menyerukan dan mempropagandakan bid’ah dan kesesatannya dengan menampilkan bid’ah dan kesesatan mereka di atas nama Islam, maka tentunya hal tersebut akan melahirkan kebingungan ditengah-tengah ummat. Akan tetapi Allah Maha Bijaksana dan Maha Menjaga agama-Nya. Dialah Allah yang berfirman :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya”. (Q.S. Al Hijr ayat 9).

Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda :

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Terus menerus ada sekelompok dari ummatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu”.

Maka para ‘ulama salaf waktu itu yang merupakan orang-orang yang berada di atas kebenaran dan yang paling memahami aqidah yang benar dan tuntunan syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam yang murni yang belum ternodai oleh kotoran bid’ah dan kesesatan, mulailah mereka menampakkan penamaan-penamaan syari’at diambil dari Islam guna membedakan pengikut kebenaran dari golongan-golongan sesat tersebut.

Berkata Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah :

لَمْ يَكُوْنُوْا يَسْأَلُوْنَ عَنِ الْإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوْا سَمّوْا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ

“Tidaklah mereka (para ‘ulama) bertanya tentang isnad (silsilah rawi). Tatkala terjadi fitnah mereka pun berkata : “Sebutkanlah kepada kami rawi-rawi kalian maka dilihatlah kepada Ahlus Sunnah lalu diambil hadits mereka dan dilihat kepada Ahlil bid’ah dan tidak diambil hadits mereka””.

Maka Ahlus Sunnah Wal Jama’ah selain dikenal sebagai Salafiyah, mereka juga mempunyai penamaan lain yang menunjukkan ciri dan kriteria mereka.

Berikut ini kami akan mencoba menguraikan penamaan-penamaan tersebut dengan ringkas.

1. AL-FIRQOH AN-NAJIYAH

Al-Firqoh An-Najiyah artinya golongan yang selamat. Penamaan ini diambil dari apa yang dipahami dari hadits perpecahan ummat, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam menyatakan :

افْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَ فِيْ رِوَايَةٍ : مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيِوْمَ وَأَصْحَابِيْ.

“Telah terpecah orang–orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqoh (golongan) dan telah terpecah orang-orang Nashoro menjadi tujuh puluh dua firqoh dan sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqoh semuanya dalam neraka kecuali satu dan ia adalah Al-Jama’ah dalam satu riwayat : “Apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya sekarang ini”. Hadits shohih, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Dzilalil Jannah dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shohihain rahimahumullah.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Minhaj As-sunnah jilid 3 hal.345 : “Maka apabila sifat Al-Firqoh An-Najiyah mengikuti para shahabat di masa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan itu adalah syi’ar (ciri, simbol) Ahlus Sunnah maka Al-Firqoh An-Najiyah mereka adalah Ahlus Sunnah”.

Dan beliau juga menyatakan dalam Majmu’ Al Fatawa jilid 3 hal.345 : “Karena itu beliau (Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam) menyifati Al-Firqoh An-Najiyah bahwa ia adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan mereka adalah jumhur yang paling banyak dan As-Sawad Al-A’zhom (kelompok yang paling besar)”.

Berkata Syaikh Hafizh Al-Hakamy : “Telah dikabarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam -yang selalu benar dan dibenarkan- bahwa Al-Firqoh An-Najiyah mereka adalah siapa yang di atas seperti apa yang beliau dan para shahabatnya berada di atasnya, dan sifat ini hanyalah cocok bagi orang-orang yang membawa dan menjaga sifat itu, tunduk kepadanya lagi berpegang teguh dengannya. mereka yang saya maksud ini adalah para imam hadits dan para tokoh (pengikut) Sunnah”. Lihat Ma’arijul Qobul jilid 1 hal.19.

Maka nampaklah dari keterangan di atas asal penamaan Al-Firqoh An-Najiyah dari hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.

Diringkas dari : Mauqif Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Min Ahli Ahwa`i Wal Bid’ah jillid 1 hal.54-59.

Dan Berkata Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wad’iy rahimahullah setelah meyebutkan dua hadits tentang perpecahan ummat : “Dua hadits ini dan hadits-hadits yang semakna dengannya menunjukkan bahwa tidak ada yang selamat kecuali satu golongan dari tujuh puluh tiga golongan, dan adapun golongan-golongan yang lain di Neraka, (sehingga) mengharuskan setiap muslim mencari Al-Firqoh An-Najiyah sehingga teratur menjalaninya dan mengambil agamanya darinya”. Lihat Riyadhul Jannah Fir Roddi ‘Ala A’da`is Sunnah hal.22.

2. ATH-THOIFAH AL MANSHUROH

Ath-Thoifah Al-Manshuroh artinya kelompok yang mendapatkan pertolongan. Penamaan ini berdasarkan hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam :

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Terus menerus ada sekelompok dari ummatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu”. Dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Tsauban dan semakna dengannya diriwayatkan oleh Bukhary dan Muslim dari hadits Mughiroh bin Syu’bah dan Mu’awiyah dan diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah. Dan hadits ini merupakan hadits mutawatir sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho` Ash-Shirath Al-Mustaqim 1/69, Imam As-Suyuthy dalam Al-Azhar Al-Mutanatsirah hal.216 dan dalam Tadrib Ar-Rawi, Al Kattany dalam Nazhom Al-Mutanatsirah hal.93 dan Az-Zabidy dalam Laqthul `Ala`i hal.68-71. Lihat : Bashoir Dzawisy Syaraf Bimarwiyati Manhaj As-Salaf.

Berkata Imam Bukhary tentang Ath-Thoifah Al-Manshuroh : “Mereka adalah para ‘ulama”.

Berkata Imam Ahmad : “Kalau mereka bukan Ahli Hadits saya tidak tahu siapa mereka”.

Al-Qodhi Iyadh mengomentari perkataan Imam Ahmad dengan berkata : “Yang diinginkan oleh (Imam Ahmad) adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan siapa yang meyakini madzhab Ahlul Hadits”. Lihat : Mauqif Ahlus Sunnah Wal Jama’ah 1/59-62.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Muqoddimah Al ‘Aqidah Al Washitiyah : “Amma ba’du ; Ini adalah i’tiqod (keyakinan) Al Firqoh An-Najiyah, (Ath-Thoifah) Al-Manshuroh sampai bangkitnya hari kiamat, (mereka) Ahlus Sunnah”.

Dan di akhir Al ‘Aqidah Al Washitiyah ketika memberikan definisi tentang Ahlus Sunnah, beliau berkata : “Dan mereka adalah Ath-Thoifah Al-Manshuroh yang Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda tentang mereka : “Terus menerus sekelompok dari ummatku diatas kebenaran manshuroh (tertolong) tidak membahayakan mereka orang yang menyelisihi dan mencerca mereka sampai hari kiamat” mudah-mudahan Allah menjadikan kita bagian dari mereka dan tidak memalingkan hati-hati kita setelah mendapatkan petunjuk”.

Lihat : Bashoir Dzawisy Syaraf Bimarwiyati Manhaj As-Salaf hal. 97-110.

3. AHLUL HADITS

Ahlul Hadits dikenal juga dengan Ashhabul hadits atau Ashhabul Atsar. Ahlul hadits artinya orang yang mengikuti hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Dan istilah Ahlul hadits ini juga merupakan salah satu nama dan kriteria Salafiyah atau Ahlus Sunnah Wal Jama’ah atau Ath-Thoifah Al-Manshurah.

Berkata Ibnul Jauzi : “Tidak ada keraguan bahwa Ahlun Naql Wal Atsar (Ahlul Hadits) yang mengikuti jejak-jejak Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam mereka di atas jalan yang belum terjadi bid’ah”.

Berkata Al-Khathib Al-Baghdady dalam Ar-Rihlah Fii Tholabil Hadits hal.223 : “Dan sungguh (Allah) Rabbul ‘alamin telah menjadikan Ath-Thoifah Al-Manshurah sebagai penjaga agama dan telah dipalingkan dari mereka makar orang-orang yang keras kepala karena mereka berpegang teguh dengan syari’at (Islam) yang kokoh dan mereka mengikuti jejak para shahabat dan tabi’in”.

Dan telah sepakat perkataan para ‘ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bahwa yang dimaksud dengan Ath-Thoifah Al-Manshurah adalah para ‘ulama Salaf Ahlul Hadits. Hal ini ditafsirkan oleh banyak Imam seperti ‘Abdullah bin Mubarak, ‘Ali bin Madiny, Ahmad bin Hambal, Bukhary, Al-Hakim dan lain-lainnya,. Perkataan-perkataan para ‘ulama tersebut diuraikan dengan panjang lebar oleh Syaikh Robi’ bin Hady Al-Madkhaly dan juga Syaikh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah hadits no.270.

Lihat : Haqiqitul Bid’ah 1/269-272, Mauqif Ibnu Taymiyah 1/32-34, Ahlul Hadits Wa Ath- Thoifah Al-Manshurah An-Najiyah, Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, Bashoir Dzawisy Syaraf Bimarwiyati Manhaj As-Salaf dan Al-Intishor Li Ashhabil Hadits karya Muhammad ‘Umar Ba Zamul.

4. Al-Ghuraba`

Al-Ghuraba` artinya orang-orang yang asing. Asal penyifatan ini adalah sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah riwayat Muslim No.145 :

بَدَأَ الْإِسْلاَمُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya maka beruntunglah orang-orang asing itu”. Dan hadits ini adalah hadits yang mutawatir.

Berkata Imam Al-Ajurry dalam Sifatil Ghuraba` Minal Mu’minin hal.25 : “Dan perkataan (Nabi) shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam “Dan akan kembali asing” maknanya Wallahu A’lam sesungguhnya hawa nafsu yang menyesatkan akan menjadi banyak sehingga banyak dari manusia tersesat karenanya dan akan tetap ada Ahlul Haq yang berjalan diatas syari’at islam dalam keadaan asing di mata manusia, tidakkah kalian mendengar perkataan Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam : “Akan terpecah ummatku menjadi 73 golongan semuanya masuk neraka kecuali satu, maka dikatakan siapa mereka yang tertolong itu? maka kata Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam : “Apa-apa yang saya dan para shahabatku berada di atasnya pada hari ini””.

Berkata Imam Ibnu Rajab dalam Kasyful Kurbah fi washfi hali Ahlil Ghurbah hal 22-27 : “Adapun fitnah syubhat (kerancuan-kerancuan) dan pengikut hawa nafsu yang menyesatkan sehingga hal tersebut menyebabkan terpecahnya Ahlul Qiblah (kaum muslimin) dan menjadilah mereka berkelompok-kelompok, sebagian dari mereka mengkafirkan yang lainnya dan mereka menjadi saling bermusuhan, bergolong-golongan dan berpartai-partai setelah mereka dulunya sebagai saudara dan hati-hati mereka diatas hati satu orang (Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam) sehingga tidak akan selamat dari kelompok-kelompok tersebut kecuali satu golongan yang selamat. Mereka inilah yang disebut dalam sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam : “Terus menerus ada diantara ummatku satu kelompok yang menampakkan kebenaran, tidak mencelakakan mereka orang-orang yang menghinakan dan membenci mereka sampai datang ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala (hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaan tersebut”. Mereka inilah al-Ghuraba` di akhir zaman yang tersebut dalam hadits-hadits ini…”.

Demikianlah penamaan-penamaan syari’at bagi pengikut Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam sesuai dengan pemahaman para ‘ulama salaf, yang apabila dipahami dengan baik akan menambah keyakinan akan wajibnya mengikuti jalan para ‘ulama salaf dan kebenaran jalan mereka serta keberuntungan orang-orang yang mengikuti jalan mereka.

Cukuplah sebagai satu keistimewaan yang para salafiyun berbangga dengannya bahwa penamaan-penamaan ini semuanya dari Islam dan menggambarkan Islam hakiki yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan tentunya hal ini sangat membedakan salafiyun dari ahlu bid’ah yang bernama atau dinamakan dengan penamaan-penamaan yang hanya sekedar menampakkan bid’ah, pimpinan atau kelompok mereka seperti Tablighy nisbah kepada Jama’ah Tabligh yang didirikan oleh Muhammad Ilyas, Ikhwany nisbah kepada gerakan Ikhwanul Muslimin yang dipelopori oleh Hasan Al-Banna, Surury nisbah kepada kelompok atau pemikiran Muhammad Surur Zainal ‘Abidin, Jahmy nisbah kepada Jahm bin Sofwan pembawa bendera bid’ah keyakinan bahwa Al-Qur`an adalah makhluk. Mu’tazily nisbah kepada kelompok pimpinan ‘Atho` bin Washil yang menyendiri dari halaqah Hasan Al-Bashry. Asy’ary nisbah kepada pemikiran Abu Hasan Al-Asy’ary yang kemudian beliau bertobat dari pemikiran sesatnya. Syi’iy nisbah kepada kelompok Syi’ah yang mengaku mencintai keluarga Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, dan masih ada ratusan penamaan lain, sangat meletihkan untuk menyebutkan dan menguraikan seluruh penamaan tersebut, maka nampaklah dengan jelas bahwa penamaan Salafiyun-Ahlus Sunnah Wal Jama’ah-Ath-Thoifah Al-Manshurah-Al-Firqoh An-Najiyah-Ahlul Hadits adalah sangat berbeda dengan penamaan-penamaan yang dipakai oleh golongan-golongan yang menyimpang dari beberapa sisi :

Satu : Penamaan-penamaan syari’at ini adalah nisbah kepada generasi awal ummat Islam yang berada di atas tuntunan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, maka penamaan ini akan mencakup seluruh ummat pada setiap zaman yang berjalan sesuai dengan jalan generasi awal tersebut baik dalam mengambil ilmu atau dalam pemahaman atau dalam berdakwah dan lain-lainnya.

Dua : Kandungan dari penamaan-penamaan syari’at ini hanyalah menunjukkan tuntunan Islam yang murni yaitu Al-Qur`an dan sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikit pun.

Tiga : Penamaan-penamaan ini mempunyai asal dalil dari sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.

Empat : Penamaan-penamaan ini hanyalah muncul untuk membedakan antara pengikut kebenaran dari jalan para pengekor hawa nafsu dan golongan-golongan sesat, dan sebagai bantahan terhadap bid’ah dan kesesatan mereka.

Lima : Ikatan wala’ (loyalitas) dan baro’ (kebencian, permusuhan) bagi orang-orang yang bernama dengan penamaan ini, hanyalah ikatan wala’ dan baro’ di atas Islam (Al-Qur`an dan Sunnah) bukan ikatan wala’ dan baro’ karena seorang tokoh, pemimpin, kelompok, organisasi dan lain-lainnya.

Enam : Tidak ada fanatisme bagi orang-orang yang memakai penamaan-penamaan ini kecuali kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam karena pemimpin dan panutan mereka hanyalah satu yaitu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, berbeda dengan orang-orang yang menisbahkan dirinya ke penamaan-penamaan bid’ah fanatismenya untuk golongan, kelompok / pemimpin.

Tujuh : Penamaan-penamaan ini sama sekali tidak akan menjerumuskan ke dalam suatu bid’ah, maksiat maupun fanatisme kepada seseorang atau kelompok dan lain-lainnya.

Lihat : Hukmul intima` hal 31-37 dan Mauqif Ahlus Sunnah wal Jama’ah 1/46-47.

Wallahu Ta’ala A’lam.

http://www.an-nashihah.com/isi_berita.php?id=39

2 02 2011
Yusuf Al-Hijrah

Hakikat dakwah Rosululloh..

“Jika kamu mencintai Alloh, ikutilah aku”

“Sembahlah Alloh dan jauhilah Thoghut itu”

5 09 2010
fendi

Memerangi Dakwah Hizbiyyah
Senin, 20-November-2006, Penulis: Al Ustadz Abdul Mu’thi

Dakwah adalah amalan yang mulia di dalam Islam karena dengannya Islam tersebar ke berbagai penjuru dunia. Para Rasul diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk berdakwah menyampaikan risalah dari Allah yang padanya ada kebaikan dunia dan akhirat bagi seluruh manusia. Di dalam Al Quran banyak ayat yang memerintahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk berdakwah. Di antranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi.” (QS. Al Ahzab : 45-46)

“ … dan serulah kepada (agama) Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.” (QS. Al Hajj : 67)

“ … serulah mereka ke (jalan) Rabbmu dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.” (QS. Al Qashash : 87)

Katakanlah : “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk beribadah kepada Allah dengan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali.” (QS. Ar Ra’du : 36)

Perintah untuk berdakwah pada ayat-ayat di atas tidak hanya berlaku bagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam saja akan tetapi berlaku juga bagi seluruh umatnya. Karena pada dasarnya perintah Allah terhadap Rasul-Nya juga merupakan perintah terhadap umatnya.
Allah berfirman :

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran : 110)

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa berdakwah dengan cara amar ma’ruf dan nahi munkar termasuk sifat khusus bagi kaum Mukminin. Dengan demikian jelaslah bahwa berdakwah merupakan tugas bagi seluruh kaum Muslimin sesuai dengan kamampuan dan keilmuannya masing-masing. Hanya saja dalam hal ini para ulama mempunyai kekhususan dalam dakwahnya yakni kewajiban untuk menyampaikan kemuliaan-kemuliaan Islam, hukum-hukum, dan makna-maknanya yang detail serta permasalahan-permasalahan ijtihad. Hal ini dikarenakan luasnya ilmu mereka dan pengetahuan mereka tentang berbagai macam masalah[1].

Akan tetapi perlu diingat, setiap dakwah yang dilancarkan oleh siapa saja dari kalangan kaum Muslimin harus didasari ilmu. Sedangkan ilmu itu adalah Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Sebagaimana yang dipahami dari perkataan Ibnul Qayyim[2].
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Katakanlah (Ya Muhammad) : “Inilah jalan (agama)ku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah (ilmu) aku dan orang-orang yang mengikutiku. Maha Suci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf : 108)

Dengan demikian seluruh dakwah yang disampaikan harus didasari Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Dakwah seperti inilah yang diistilahkan dengan dakwah Salafiyah atau dakwah Ahlus Sunnah. Di samping adanya dakwah Salafiyah muncul pula berbagai macam dakwah hizbiyah, yakni seruan untuk mengikuti dan membela pemahaman-pemahaman yang menyimpang dari pemahaman Salaf yang dibawa oleh para tokoh atau pemimpin dan pembesar-pembesar. Mereka mengukur kebenaran dengan para tokoh, pemimpin, dan pembesarnya, tidak diukur dengan Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf.

Oleh karena itu semakin kaburlah kebenaran di kalangan umat disebabkan munculnya dakwah hizbiyah ini. Salah seorang shahabat yang mulia, Ali radliyallahu ‘anhu pernah berwasiat :

“Wahai Harits, Al Haq itu tidak diketahui (yakni diukur) dengan para tokoh-tokoh. Ketahuilah Al Haq, kamu akan mengetahui siapa Ahlul Haq itu[3].” (Ushul fil Bida’ was Sunnan oleh Ahmad Muhammad Al Adawy halaman 16)

Wasiat ini mengandung peringatan agar jangan mengukur kebenaran dengan orang tertentu. Apakah itu para tokoh, pemimpin, pembesar, ulama, umara, dan yang lainnya. Akan tetapi belajarlah Al Haq kemudian ukurlah para tokoh, pemimpin, ulama, umara, dan pembesar dengan Al Haq tersebut. Dengan demikian dapat diketahui apakah mereka termasuk Ahlul Haq atau bukan?
Wasiat ini sangat penting bagi kita agar berhati-hati dari dakwah hizbiyah karena kaburnya Al Haq dan timbulnya berbagai macam perpecahan dan perselisihan. Dari mereka inilah muncul berbagai macam syubhat dari orang-orang yang menginginkan kebathilan, di antaranya :
“Mengapa dakwah yang mengajak kepada suatu kelompok, golongan, dan organisasi Islam yang dipimpin oleh seorang tokoh dikatakan dakwah hizbiyah padahal bukanlah Ahlus Sunnah wal Jamaah juga merupakan suatu kelompok yang dipimpin ulama? Kenapa dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak disebut dengan dakwah hizbiyah?”

Dalam tulisan ini kami akan membahas makna dari Ahlus Sunnah wal Jamaah dan sejarah munculnya pemahaman tersebut. Mudah-mudahan dengan demikian akan dapat memperjelas keadaan dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan perbedaannya dengan dakwah hizbiyah. Kemudian kami juga Insya Allah akan menjelaskan hakikat dakwah hizbiyah beserta jalan keluar dari dakwah hizbiyah tersebut.

Makna Ahlus Sunnah wal Jamaah

Ibnu Rajab berkata : “As Sunnah adalah jalan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang dia berada di atasnya dan juga para shahabat yang selamat dari berbagai macam syubhat dan syahwat.” (Kasyful Kurbah oleh Ibnu Rajab halaman 11-12)
Berkata Imam Al Alusy dalam kitabnya Ghayatul Amaany : “Kata As Sunnah pada asalnya adalah setiap perkara yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berada di atasnya dan apa saja yang telah di sunnahkan atau perintahkan dengannya baik dalam permsalahan ushuluddin maupun dalam permasalahan furu-furu (cabang-cabangnya)[4].

(Kata ini) juga digunakan pada setiap perkara yang mana para Salafush Shalih berada di atasnya, baik dalam masalah imamah, pengutamaan (di antara para shahabat) maupun menahan diri dari setiap perkara yang para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berselisih padanya.” (Ghayatul Amaany, Al Ahisy 1/428)
Dari definisi di atas, Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah dan berpegang teguh dengannya dalam seluruh perkara yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berada di atasnya dan juga para shahabatnya. Oleh karena itu Ahlus Sunnah yang sebenarnya adalah para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka sampai hari kiamat.

Imam Ibnu Hazm berkata dalam kitabnya : “Ahlus Sunnah adalah Ahlul Haq sedangkan yang selain mereka adalah ahlul bid’ah. Sesungguhnya mereka (Ahlus Sunnah) adalah para shahabat radliyallahu ‘anhum dan orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka dari kalangan para tabi’in yang mendapatkan rahmat Allah atas mereka kemudian para Ashhabul Hadits dan orang yang mengikuti mereka dari para fuqaha, generasi demi generasi sampai masa kita sekarang ini. Demikian pula orang-orang yang mencontoh mereka dari orang-orang awam di bagian Timur dan Barat bumi ini. Semoga Allah melimpahkan rahmatnya atas mereka[5].” (Al Fashl 2/107)

Adapun sebab penamaan mereka dengan Ahlus Sunnah adalah sebagaimana yang telah disebutkan Ibnu Taimiyah dengan perkataannya : “Hanya saja mereka dinamakan dengan Ahlus Sunnah karena mereka mengikuti sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.” (Al Muntaqa halaman 190). Hal yang sama juga diucapkan oleh Abu Mudhaffar Al Isfirayini : “Tidak ada pada kelompok-kelompok yang ada pada umat ini (orang) yang paling banyak mengikuti khabar-khabar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan sunnahnya di antara mereka melainkan mereka dinamakan Ahlus Sunnah.” (At Tafshir Fiddin oleh Al Isfirayini halaman 167)

Nama Al Jamaah memiliki beberapa pengertian :
1. Jama’atul Muslimin, yakni mereka (kaum Muslimin) yang berada di atas sesuatu yang Rasulullah dan para shahabatnya berada di atasnya. Sebagaimana yang telah disebutkan pada sebagian hadits seperti hadits Hudzaifah Ibnul Yaman radliyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda :
“ … engkau berpegang dengan Jamaatul Muslimin dan imam mereka … .” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Sesuatu yang mencocoki Al Haq.
Hal ini seperti yang diucapkan oleh Ibnu Mas’ud tentang pengertian Al Jamaah :
“Al Jamaah adalah sesuatu yang mencocoki Al Haq walaupun engkau sendiri (yang mengikutinya).” (Riwayat Al Laalikaiy dari Ibnu Mas’ud dalam Kitab As Sunnah dan Abu Syamah dalam Al Ba’its ‘Ala Inkari Bida’ Wal Hawaadits halaman 22 dan Ibnul Qayyim dalam Kitab Ighatsatul Lahfan halaman 1/70)

Abu Syamah dalam kitabnya menguatkan pengertian kedua ini dengan perkataannya : “Sebagaimana telah datang perintah untuk berpegang dengan Al Jama’ah maka yang dimaksudkan dengannya adalah berpegang kepada Al Haq dan mengikutinya walaupun sendirian sedangkan yang menyelisihinya banyak. Hal itu dikarenakan Al Haq itu adalah sesuatu yang berada di atasnya jamaah pertama dari masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya. Tidak dapat dipandang dari banyaknya ahlul bathil setelah mereka.”
Beliau berkata : “Sesuatu yang mencocoki Al Haq pada permasalahan aqidah saja yang telah menyimpang darinya para ahlul bid’ah. Oleh karena itu kita dapati Abu Hanifah memberi makna Al Jama’ah dengan pengertian seperti ini.” (Al Ba’its ‘Ala Inkari Bida’ Wal Hawaadits halaman 22)
3. Al Jamaah adalah jika engkau mengutamakan Abu Bakar, Umar, Ali, dan kemudian Utsman[6]. Engkau tidak menganggap kurang dari salah seorang dari shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan tidak pula mengkafirkan manusia (kaum Muslimin) dengan perbuatan dosanya. Engkau menshalatkan orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dan shalat di belakang mereka serta yang mengusap kedua khuf-nya (ketika berwudhu) … . (Al Intiqa’ fi Fadli Tsalasati ‘Aimmatil Fuqaha oleh Ibnu Abdil Bar halaman 163-164)
4. Bermakna jamaah kaum Muslimin yang mana mereka berkumpul di bawah satu amir[7]. Makna ini sebagaimana telah disebutkan oleh Imam Thabari dalam riwayatnya bahwasanya ‘Amar bin Huraits bertanya kepada Said bin Zaid : “Kapan Abu Bakar harus dibaiat?” Beliau (Said bin Zaid) menjawab : “Pada hari meninggalnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang mana mereka (para shahabat) benci untuk tinggal pada sebagian hari sedangkan mereka tidak dalam keadaan berjamaah.” (Tarikh Ath Thabary halaman 2/447)
5. Al Jamaah juga berarti berpegang teguh dengan tali Allah secara berjamaah, tidak berpecah dan berselisih. Hal ini disebutkan dalam sebuah riwayat dari Ali radliyallahu ‘anhu, ia berkata : “Tetapkanlah oleh kamu sekalian sebagaimana yang kamu tetapkan. Sesungguhnya aku benci perselisihan hingga manusia menjadi berjamaah.” (Riwayat Bukhari dalam Shahih-nya dan Fathul Bari 7/17)
Ibnu Hajar berkata : “Perkataan (sesungguhnya aku membenci perselisihan) maksudnya adalah perselisihan yang membawa kepada pertentangan.” Ibnu Tin berkata : “Yaitu menyelisihi Abu Bakar dan Umar.” Sebagian yang lain berkata : “Perselisihan yang membawa pada pertentangan dan fitnah.” Hal ini dikuatkan pula dengan perkataannya yang selanjutnya : “Hingga manusia berjamaah.” (Fathul Bary oleh Ibnu Hajar 7/73)

Makna jamaah yang seperti ini pernah terjadi pada tahun ketika Hasan bin Ali bin Abi Thalib menyerahkan jabatannya sebagai khalifah sepenuhnya kepada Mu’awiyah –semoga Allah meridhai keduanya–. Sehingga tahun tersebut dinamakan Tahun Al Jamaah. Ibnu Baththal berkata : “Hasan menyerahkan urusan (kekhalifahannya) kepada Mu’awiyah dan membaiatnya atas dasar menegakkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya. Mu’awiyah pun akhirnya memasuki Kufah dan manusia pun membaiatnya. Oleh karena itu dinamakanlah (tahun tersebut) dengan Tahun Al Jamaah karena manusia bersatu dan perang berhenti[8].” (Tarikh Khalifah bin Khayath halaman 203 dan Ma’almu As Sunnan oleh Khathaby 4/311)

Mengenai sebab penamaan Ahlus Sunnah dengan Al Jamaah, Imam Abdul Qaahir Al Baghdaady rahimahullah berkata : “Bahwasanya Ahlus Sunnah sebagiannya tidak mengkafirkan kepada sebagian yang lain. Dan tidak ada di antara mereka perselisihan yang menimbulkan sikap bara’ (berlepas diri di antara mereka) dan tidak pula pengkafiran (sesama mereka). Jadi, merekalah Ahlul Jamaah yang menegakkan Al Haq dan (oleh karena itu mereka dinamakan) Ahlul Haq. Mereka tidak terjatuh ke dalam perselisihan dan pertentangan. Tidak ada satu kelompok pun dari kelompok yang menyelisihi sunnah melainkan pasti terjadi di antara mereka pengkafiran sebagian mereka terhadap sebagian yang lain dan berlepas diri sebagian mereka terhadap sebagian yang lain. Kelompok-kelompok tersebut seperti Khawarij, Rawafid, Qadariyah, dan lain-lainnya. Sehingga apabila berkumpul tujuh orang dari mereka pada satu majelis niscaya mereka berpecah-belah karena pengkafiran sebagian mereka kepada sebagian yang lain[9].”

Ibnu Taimiyyah berkata : “ … (Ahlus Sunnah) dinamakan Ahlul Jamaah karena Al Jamaah adalah berkumpul sedangkan kebalikannya adlah berpecah walaupun terkadang lafadz Al Jamaah menjadi satu makna untuk suatu kaum yang berkumpul. Dan ijma’ adalah dasar yang ketiga yang dipegang atasnya dalam permasalahan ilmu dan Dien.”
Ahlus Sunnah mengukur dengan tiga dasar ini (Quran, Sunnah, dan Ijma’) seluruh perkataan dan perbuatan manusia, baik lahir maupun bathin yang mempunyai hubungan/kaitan dengan Dien[10].
Dari perkataan Ibnu Taimiyyah di atas dapat diambil pengertian bahwa Ahlus Sunnah dinamakan Ahlul Jamaah karena mereka berkumpul di atas Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan apa-apa yang disepakati oleh Salafus Shalih[11].

Dengan beberapa keterangan tentang makna Ahlus Sunnah wal Jamaah di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah orang-orang yang mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya dalam seluruh perkara yang berkaitan dengan Dien dan mereka berkumpul di atas Sunnah tersebut. Wallahu A’lam Bis Shawab.

Sejarah Munculnya Nama Ahlus Sunnah wal Jamaah

Yang kami maksudkan dalam hal ini adalah sejarah terjadinya pembedaan nama Ahlus Sunnah wal Jamaah dari berbagai nama kelompok-kelompok ahlul bid’ah wal firqah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :
[ Jalan mereka (Ahlus Sunnah) adalah Dienul Islam yang Allah utus dengannya Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Akan tetapi tatkala Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengkhabarkan bahwa umatnya akan berpecah menjadi 73 golongan yang seluruhnya di dalam neraka kecuali satu golongan --yakni Al Jamaah-- atau dalam hadits yang lain beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Mereka adalah orang yang seperti aku dan para shahabatku pada hari ini.”

Jadilah orang yang berpegang dengan Islam, bersih dari berbagai macam campuran (pemikiran yang sesat) sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Di antara mereka ada orang-orang yang shiddiq (jujur), para syuhada, dan orang-orang shalih[12]. Perkataan Ibnu Taimiyyah ini menunjukkan bahwa awal terjadinya penamaan Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah ketika terjadinya perpecahan sebagaimana yang dikhabarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Karena sebelum terjadinya perpecahan tidak ada istilah-istilah itu sedikitpun, baik istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Syiah, Khawarij, dan lain-lain. Pada saat itu kaum Muslimin seluruhnya berada di atas Dien dan pemahaman yang satu yaitu Islam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya agama (yang diridlai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran : 19)

Orang yang berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan Al Jamaah pada mulanya tidak membutuhkan untuk membedakan diri dengan memakai nama tertentu. Karena mereka berpegang pada pemahaman yang pertama dan benar di dalam Islam sedangkan yang terpisah dari mereka adalah orang yang menyelisihi Sunnah. Menurut kaidah, sesuatu yang asal (pertama) tidak membutuhkan pada sesuatu yang dapat membedakan dia dari yang lain. Akan tetapi yang butuh pada sesuatu yang dapat membedakan diri dari yang lain adalah sesuatu yang sudah menjadi cabang dari yang asal (pertama tersebut). Sehingga dengan demikian perkara cabang itu menjadi masyhur dengan sesuatu yang membedakan dia dari yang lain. Seperti inilah keadaan ahlul bid’ah yang telah menyimpang dari Sunnah. Ia masyhur dengan nama yang menunjukan kepada kebid’ahan dan penyimpangannya dari Sunnah. Hal ini terjadi tatkala timbulnya berbagai macam perselisihan dan perpecahan. Pada saat itulah dimunculkannya nama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang pada mulanya nama itu tidak pernah disebutkan. ]

Imam Malik rahimahullah ketika ditanya tentang Ahlus Sunnah beliau menjawab dengan mengatakan :
“Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang tidak memiliki laqab (gelar tertentu) yang mereka dikenal dengannya. (Mereka) bukanlah Jahmiyyun (pengikut pemahaman Jahmiyah) bukan Qadariyyun (pengikut pemahaman Qadariyah) dan bukan pula Rafidliyyun (pengikut pemahaman Syiah Rafidlah).” (Al Intiqa Ibnu Abdil Barr halaman 35)
Dari sini kita sepakat dengan apa yang telah dikatakan oleh Doktor Mustafa Hilmy :

“Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah pelanjut pemahaman kaum Muslimin pertama yang ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam keadaan beliau ridha terhadap mereka sedangkan kita tidak bisa membuat batasan permulaan (munculnya mereka) yang kita bisa berhenti padanya sebagaimana yang dapat kita lakukan pada kelompok-kelompok yang lain. Tidak ada tempat (bagi kita) untuk menanyakan tentang (sejarah) munculnya Ahlus Sunnah seperti halnya jika kita bertanya tentang (sejarah) munculnya kelompok-kelompok yang lain.” (Nidzhamul Khilafah Fi Fikratil Islam halaman 292)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata di dalam Kitabnya, Minhaju As Sunnah :
“Madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah madzhab yang terdahulu dan telah terkenal sebelum Allah menciptakan Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Ia adalah madzhab para shahabat yang diterima dari Nabi mereka. Barangsiapa yang menyelisihi (madzhab) tersebut maka dia adalah ahlul bid’ah menurut (kesepakatan) Ahlus Sunnah wal Jamaah.” (Minhaju As Sunnah 2/482, tahqiq Muhammad Rasyad Salim)

Dari penjelesan di atas dapat kita pahami bahwa pertanyaan tentang sejarah timbulnya pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah pertanyaan yang tidak dapat dibenarkan. Hal itu berbeda keadaannya dengan kelompok-kelompok yang menyimpang dari Sunnah. Pertanyaan yang benar dalam masalah ini adalah pertanyaan tentang awal mula timbulnya penamaan madzhab ini dengan nama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sebenarnya asal penamaan Ahlus Sunnah wal Jamaah bagi mereka yang mengikuti Sunnah dan berpegang dengan Al Jamaah telah ada pada nash-nash yang memerintahkan untuk senantiasa mengikuti Sunnah dan berpegang teguh dengan Jamaah. Nama Ahlus Sunnah wal Jamaah juga terdapat di dalam Sunnah dan perkataan para Salaf.
Jadi yang kami maksudkan dengan sejarah timbulnya penamaan Ahlus Sunnah wal Jamaah di sini adalah sejarah mulai dimunculkan dan disebarluaskannya nama Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai satu-satunya madzhab yang bersih dari kesesatan bukan sejarah mulai dibuatnya pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah[13] dan digunakannya nama tersebut. Kami berharap dengan adanya keterangan-keterangan di atas akan semakin jelas kesalahan orang yang menganggap bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah kelompok tertentu dan termasuk dakwah hizbiyyah.

Hakikat Dakwah Hizbiyyah

Pada uraian berikut ini akan kami jelaskan tentang hakekat dakwah hizbiyah dan perbedaannya dengan dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Ahlus Sunnah wal Jamaah yaitu mereka yang berpegang teguh pada Sunnah dan Jamaah di mana sejarah mulai disebarluaskannya nama tersebut ketika timbulnya berbagai macam perpecahan dan perselisihan. Sedangkan dakwah hizbiyah adalah dakwah yang mengajak pada kelompok atau golongan tertentu yang menyimpang dari Sunnah dan manhaj yang shahih yang ditinggalkan oleh Salaful Shalih.

Para da’i yang mengajak untuk mengikuti manhaj Ahlus Sun
nah wal Jamaah adalah para da’i yang mengajak umat untuk kembali kepada Al Quran dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih bukan mengajak kepada kelompok atau golongan tertentu yang menyimpang dari Sunnah dan manhaj yang shahih. Digunakannya nama Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah dalam rangka membedakan dari berbagai kelompok dan golongan sesat yang menyimpang dari Sunnah. Nama ini bukan nama yang dibuat untuk suatu kelompok atau aliran tertentu yang telah menyempal dari Sunnah.

Akan tetapi banyak dari orang-orang jahil yang menuduh dakwah Ahlus Sunnah adalah dakwah hizbiyah. Mereka menuduh para da’i Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mengajak kepada Sunnah, mencintai Ahlus Sunnah, dan menjauhi bid’ah serta membenci ahlul bid’ah adalah para da’i yang mengajak kepada hizbiyah. Menurut orang-orang jahil tersebut, Ahlus Sunnah hanya menganjurkan kaum Muslimin untuk mengikuti dakwahnya saja dengan meninggalkan dakwah lainnya yang masih merupakan dakwah Islamiyah. Di samping itu –menurut mereka– para da’i tersebut mengikat pengikutnya untuk belajar hanya kepadanya saja dan tidak boleh belajar kepada para da’i lain yang berbeda manhaj dengan mereka.

Tuduhan-tuduhan seperti ini sering muncul dari mulut-mulut orang yang benci kepada da’i Ahlus Sunnah wal Jamaah yang bermanhaj Salaf yang mengajak kaum Muslimin berpegang teguh pada Sunnah dan menjauhi bid’ah serta mencintai Ahlus Sunnah dan membenci ahlul bid’ah. Tuduhan ini sebenarnya timbul hanya karena semata-mata mereka merasa dirugikan baik dari segi pribadi atau dakwah dan kelompoknya. Pribadi-pribadi mereka merasa dirugikan karena ia tidak akan mendapatkan atau paling tidak akan berkurang pengikutnya yang dapat mereka gunakan untuk memenuhi ambisi hawa nafsunya yang disembunyikan di balik nama Islam. Sedangkan kelompok mereka merasa dirugikan karena banyak kaum Muslimin yang akan lari dari dakwah dan kelompok mereka disebabkan adanya para da’i Ahlus Sunnah yang memberikan peringatan agar berhati-hati dari dakwah dan kelompok yang telah menyempal dari Sunnah. Mereka yang melancarkan tuduhan seperti di atas tidak lain adalah para hizbiyyun (orang-orang yang terkena penyakit hizbiyah/fanatik golongan). Para hizbiyun tersebut terdiri dari kalangan Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, Hizbut Tahrir, NII dan kelompok sempalan yang lainnya.

Oleh karena itu perlu kiranya diterangkan tentang bagaimana sebenarnya hakekat dakwah hizbiyah agar jelas mana dakwah hizbiyah dan mana yang tidak hizbiyah di antara sekian banyak dakwah yang ada sekarang ini. Hal ini mengingat sangat rancunya permasalan tersebut pada kebanyakan kaum Muslimin sehingga muncullah berbagai tuduhan seperti di atas terhadap dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mengajak umat untuk berpegang teguh dengan Sunnah.

Bahkan yang lebih menyedihkan lagi timbul pula tuduhan dari sebagian da’i yang mengaku bermanhaj Salaf karena banyak terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran bid’ah Ikhwaniyyah. Mereka menuduh bahwa para da’i Ahlus Sunnah yang bermanhaj Salaf yang selalu men-tahdzir (memperingatkan) umat dari bahaya pemikiran para da’i yang tidak paham manhaj Salaf yang akan dapat menjauhkan umat dari shiratal mustaqim serta menjauhkan umat dari para da’i yang mengajak ke neraka Jahannam dengan cara melarang duduk bermajelis mengambil ilmu dari mereka[14] sebagai da’i yang mengajak sebagai da’i yang mengajak kepada hizbiyah (fanatik golongan) dan mengajarkan taklid. Mereka juga menuduh para pengikutnya sebagai orang-orang yang muqallid. Wallahul Musta’an.

Wahai saudaraku kaum Muslimin, –semoga Allah merahmati dan menunjuki kita semua kepada jalan yang lurus– ketahuilah! Jalan yang selamat itu adalah dengan mengikuti Al Quran dan As Sunnah. Hal ini adalah suatu perkara yang sudah maklum di kalangan kaum Muslimin kecuali orang-orang yang Allah palingkan hatinya, baik mereka yang masih mengaku sebagai Muslim atau tidak. Di dalam Al Quran terlalu banyak dalil yang menunjukkan keharusan bagi kita mengikuti petunjuk Al Quran dan As Sunnah demikian pula dalam hadits-hadits yang shahih serta parkataan para ulama[15]. Hanya saja kebanyakan kaum Muslimin –terlebih lagi pada masa sekarang ini– kebingungan dalam mencari jalan yang benar dalam memahami Al Quran dan As Sunnah.

Mereka akhirnya terjerumus ke dalam berbagai jalan yang sesat dalam memahami Al Quran dan As Sunnah. Namun Alhamdulillah dengan segala hidayah dan rahmat-Nya Allah senantiasa membangkitkan di kalangan umat ini pada setiap masanya orang-orang yang akan selalu membela Dien-nya, mengajak umat untuk kembali kepada jalan-Nya dan membimbing umat untuk selalu mengikuti satu jalan yang benar dalam memahami Al Quran dan As Sunnah[16]. Mereka terdiri dari para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di antaranya Khulafaur Rasyidin Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radliyallahu ‘anhum kemudian para tabi’in, tabi’ut tabi’in, para Aimmatul Huda (imam-imam yang mendapatkan petunjuk) dan para ulama Ahlus Sunnah pada setiap masa.
Mereka mengajarkan kepada umat ini satu jalan yang selamat dalam memahami Al Quran dan As Sunnah.

Jalan itu adalah Sabilul Mukminin (jalannya kaum Mukminin) yakni jalan para shahabat dan generasi awal dari umat ini dalam memahami Al Quran dan As Sunnah. Jalan yang selamat ini yang diterima oleh Salaful Shalih tersebut dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Di atas jalan inilah mereka menegakkan Al Wala’ (loyalitas) dan Al Bara’ (berlepas diri). Sedangkan orang-orang yang menyimpang dari jalan ini adalah orang-orang yang binasa, mereka menegakkan Al Wala’ dan Al Bara’-nya di atas jalan kesesatan yang mereka terjerumus di dalamnya.

Allah Ta’ala berfirman :
“Barangsiapa yang mendurhakai Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS. An Nisa’ : 115)

Pada ayat ini Allah mengancam kepada orang-orang yang mendurhakai Rasul dan yang menyimpang dari jalannya kaum Mukminin yakni para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam sebuah ceramahnya yang dikumpulkan dalam Muhadlarat fi Dakwah Salafiyah dengan ancaman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memalingkan mereka ke jalan yang sesat sehingga sulit baginya untuk keluar dari jalan tersebut. Kemudian Allah akan memasukkan dia ke neraka Jahannam sedangkan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali[17].

Demikianlah semakin jelas betapa pentingnya mengikuti jalan kaum Mukminin tersebut sebagaimana yang telah diajarkan oleh para ulama Ahlul Hadits kepada umat ini[18]. Kaum Muslimin yang ingin terlepas dari kebingungan hendaknya memilih jalan yang tepat dalam memahami Al Quran dan As Sunnah, harus mengikuti jalan yang selamat ini yakni Sabilul Mukminin. Atas dasar ini pulalah ditegakkannya dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah hingga Dien ini benar-benar seluruhnya untuk Allah dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan pemahaman para shahabatnya radliyallahu ‘anhum.

Jika tidak demikian berarti Dien ini tidak diserahkan seluruhnya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala karena mereka hanya berdien menurut akal dan hawa nafsunya masing-masing, tidak dengan syari’at yang telah Allah turunkan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan dengan pemahaman para shahabatnya radliyallahu ‘anhu. Akhirnya masing-masing kaum (yang berpecah dan berselisih itu) memiliki sesuatu yang mana mereka membedakan dirinya dari yang lainnya seperti (pemimpin) yang diagungkan dan dikultuskan, sesembahan yang tidak Allah perintahkan untuk mengibadahi dan mentaatinya atau suatu pendapat yang mereka ada-adakan sedangkan Allah tidak mengizinkan dan tidak mensyari’atkannya. (Jami’u Ar Rasaail oleh Ibnu Taimiyah, tahqiq Muhammad Rasyad Salim 2/230)

Selanjutnya masing-masing kelompok tersebut bangga dengan apa yang ada di sisinya sebagaimana firman-Nya :
“Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar Ruum : 32)
Mereka menegakkan Al Wala’ dan Al Bara’ di atas sesuatu yang ada pada kelompoknya masing-masing. Oleh karena itu mereka hanya ber-wala’ kepada orang yang simpati atau para pengikut kelompoknya dan mereka ber-bara’ dari setiap orang yang tidak mengikuti kelompoknya. Sesuatu yang mereka bangga-banggakan itu di antaranya adalah pemimpin-pemimpin yang mereka berdien dengan pendapatnya sekalipun pendapatnya itu adalah bid’ah.

Masing-masing kelompok senantiasa menyandarkan berbagai macam pujian dan sanjungan kepada pemimpin kelompoknya tersebut meskipun pemimpin-pemimpin mereka adalah orang yang bodoh dan tidak kuat dalam masalah ilmu. (Tanbih Ulil Abshar karya As Suhaimiy halaman 253)
Setiap kelompok yang membanggakan pemimpinnya dan hanya berdien dengannya akan menjadikan seluruh pendapat pemimpinnya itu sebagai landasan dalam mengukur kebenaran segala sesuatu. Mereka akan menggunakan akal serta pemikirannya untuk membela pendapat (pemimpinnya) tersebut dengan cara mencarikan pendukung dari tiap-tiap kitab dan karangan yang dahulu maupun sekarang. Padahal yang wajib untuk dijadikan sebagai landasan untuk mengukur kebenaran segala sesuatu adalah Al Kitab dan As Sunnah. Kemudian mencocokkan pendapat para syaikh dan pemimpin tersebut kepadanya (Al Kitab dan As Sunnah). (Ath Thaifah fi Bara’ati Ahlis Sunnah Abdul Aziz Al Utaiby halaman 11)

Masing-masing kelompok memiliki nama-nama yang mereka jadikan ukuran untuk mengukur benar atau salah dan dasar untuk saling tolong menolong serta bela membela. Mereka juga saling panggil memanggil dengan nama-nama tersebut sehingga mereka terjatuh dalam panggilan-panggilan jahiliyah. Ibnul Qayyim berkata :
“(Panggilan-panggilan jahiliyah itu) adalah seperti panggilan (yang menunjukkan pembelaan) kepada suku-suku, fanatik kepada seseorang, fanatik terhadap madzhab-madzhab, kelompok-kelompok atau golongan-golongannya, pemimpin-pemimpin, (panggilan yang menunjukkan) pengutamaan sebagian orang dari sebagian yang lain dengan dasar hawa nafsu dan kefanatikan.

Dan keadaannya (seseorang) menisbahkan diri pada sesuatu menyeru dan mengajak kepada hal yang demikian. Dia ber-wala’ atas dasar hal itu (hawa nafsu/kefanatikan) demikian pula (keadaannya) ketika dia memusuhi. Mereka juga menimbang/mengukur manusia dengannya (yakni dengan hawa nafsu dan kefanatikan). Maka seluruhnya ini termasuk panggilan-panggilan jahiliyyah[19].” (Dinukil oleh Sulaiman bin Abdullah Alu Asy Syaikh di dalam Taysirul Azizil Hamid halaman 515)
Dari beberapa keterangan di atas kiranya cukup menjelaskan apakah hakikat dakwah hizbiyyah. Yang semua itu timbul akibat penyimpangan dari dakwah Ahlus Sunnah dan mengikuti Sabilul Mukminin. Jadi dapat kita simpulkan dari keterangan di atas bahwa hakikat dakwah hizbiyyah adalah :

1. Dakwah yang mengajak kepada satu kelompok atau golongan yang menyimpang dari Sabilul Mukminin.
2. Dakwah yang dipimpin oleh seorang pimpinan atau syaikh yang memiliki pendapat-pendapat bid’ah dan dengannya dakwah tersebut membedakan diri dari dakwah-dakwah yang lain.
3. Dakwah yang membanggakan para pimpinannya yang mengajak mereka menyimpang dari Sabilul Mukminin. Dakwah tersebut dalam menegakkan Al Wala’ dan Al Bara’ didasarkan cinta kepada pimpinannya. Mereka ber-wala’ kepada orang yang sepaham dengannya dalam mengikuti para pemimpin itu dan bara’ kepada orang yang tidak sepaham dengannya dalam mengikuti pemimpin itu. Akhirnya para pengikut dakwah hizbiyyah ini mengambil seluruh pendapat pemimpinnya tanpa memperhatikan benar salahnya pendapat tersebut menurut Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Apabila mereka mendapatkan pendapat bid’ah pemimpin-pemimpin mereka, mereka akan berusaha mencari berbagai macam alasan agar tetap bisa berpegang kepada pendapat tersebut. Kemudian mereka menyandarkan berbagai macam pujian kepada pimpinannnya walaupun pimpinannya adalah orang-orang yang bodoh dan tidak berilmu dengan ilmu yang shahih dan kokoh.
4. Dakwah yang memiliki nama tertentu bagi kelompoknya yang dengannya memisahkan diri dari yang lainnya kemudian mereka fanatik dengan nama tersebut dan menjadikannya sebagai landasan kebenaran tolong menolong serta bela membela.
Dakwah-dakwah hizbiyyah biasanya memang memiliki nama-nama tertentu dan masing-masingnya terkenal dengan nama-nama tersebut. Mereka saling panggil memanggil dengan panggilan seperti panggilan yang dilakukan oleh orang Arab terhadap suku-suku mereka pada jaman jahiliyyah ketika terjadi perselisihan di antara mereka.
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa seorang laki-laki yang suka bercanda dari kalangan Muhajirin memukul dubur seorang shahabat dari kalangan Anshar hingga shahabat Anshar ini menjadi sangat marah kepadanya. Akhirnya berakibat masing-masing shahabat tersebut memanggil kelompoknya. Shahabat Anshar menyeru kelompoknya dengan berkata : “Wahai (kaum) Anshar.” Sedangkan shahabat Muhajirin berkata : “Wahai (kaum) Muhajirin.” (Setelah mendengar hal ini) Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam keluar seraya bersabda : “Ada apa dengan panggilan jahiliyyah ini? Apa urusan mereka?” Kemudian diceritakanlah kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kejadian seorang Muhajirin memukul pantat seorang Anshar. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Tinggalkan oleh kalian panggilan-panggilan jahiliyah itu karena sesungguhnya panggilan itu adalah (panggilan) yang jelek.” (HR. Bukhari)

Wahai saudaraku kaum Muslimin! Inilah beberapa point tentang hakekat dakwah hizbiyah. Betapa bedanya dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan dakwah hizbiyah, ibarat putih dengan hitam.
Pada satu sisi dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah menyeru untuk mengikuti Sabilul Mukminun di bawah bimbingan para ulama Ahlul Hadits yang mengajarkan hujjah yang kuat dari Al Quran dan As Sunnah dengan keyakinan bahwa para ulama tersebut tidaklah makshum seperti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Jika mereka mendapatkan pendapat ulama tersebut menyimpang dari Sabilul Mukminin maka mereka siap untuk meninggalkannya. Imam Malik rahimahullah berkata :
“Setiap manusia dapat diambil perkataannya dan dapat dibuang kecuali pemilik kubur ini.” Seraya memberikan isyarat ke kubur Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam[20].

Dakwah Ahlus Sunnah meletakkan dasar Al Wala’ dan Al Bara’ di atas Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf bukan di didasarkan pada fanatik terhadap golongan (kelompok dan pemimpinnya) masing-masing. Dakwah ini juga tidak memiliki nama-nama tertentu melainkan hanya Ahlus Sunnah wal Jamaah, Al Firqatun Najiyah, Ath Thaifah Al Manshurah, As Salaf (yakni dakwah Salafiyah), Ahlul Hadits, Ahlul Atsar, Al Jamaah, Jamaatul Muslimin. Seluruh nama-nama ini dinisbatkan oleh para ulama Ahlul Hadits dari beberapa riwayat yang shahih tentang perpecahan umat untuk menjelaskan tentang satu kelompok yang selamat dari mereka yaitu Al Jamaah yang mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya serta beberapa riwayat tentang keutamaan Salafus Shalih. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim. Penisbatan itu juga diambil dari penjelasan tentang adanya kelompok kecil (umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) yang akan ditolong dan selalu membela kebenaran hingga hari kiamat di antaranya hadits riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad.

Dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah dinisbatkan dengan nama-nama di atas agar dapat dibedakan dari berbagai dakwah-dakwah sesat yang menyempal dari Sunnah di mana dakwah-dakwah sesat tersebut juga mempunyai nama-nama yang mereka fanatik dengan kelompok/golongan dan pemimpin mereka. Seperti syiah rafidlah, jahmiyah, mu’tazilah, sufiyah atau nama kelompok hizbiyah yang sekarang seperti ikhwanul Muslimin, jamaah tabligh, hizbut tahrir, NII, Islam jamaah dan lain-lain.
Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid berkata dalam Kitabnya Hukmul Intima’ :
[ Nama-nama (Ahlus Sunnah) yang mulia ini berbeda dengan berbagai nama yang dimiliki oleh kelompok/golongan mana saja. Hal itu dapat ditinjau dari beberapa segi :

1. Nama-nama yang diberikan pada Ahlus Sunnah itu adalah penisbatan yang tidak pernah terpisah sedikit pun dari kaum Muslimin semenjak terbentuknya di atas Manhaj Nubuwah. Nama-nama itu mencakup seluruh kaum Muslimin yang berada di atas jalan generasi awal (yakni Salafus Shalih) dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam mengambil ilmu, cara memahaminya dan metode dakwah kepadanya (ilmu).
2. Nama-nama tersebut tidak memiliki bentuk khusus yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, baik dalam bentuk penambahan atau pengurangan.
3. Nama-nama tersebut adalah gelar yang di antaranya telah tsabit (tetap) di dalam sunnah yang shahihah. Nama-nama ini disebutkan dalam menghadapi manhaj-manhaj Ahlul Ahwa dan kelompok yang sesat untuk membantah bid’ah-bid’ah mereka, membedakan dirinya dari mereka, menjauhi pergaulan dari mereka dan menyelisihi mereka. Oleh karena itulah tatkala muncul berbagai bid’ah maka kaum Ahlus Sunnah menampakkan dirinya dengan Sunnah. Tatkala ra’yu (rasio/akal) dijadikan landasan hukum, mereka membedakan dirinya dengan berpegang pada hadits dan atsar. Dan tatkala tersebarnya bid’ah dan hawa nafsu dari para khalaf, mereka membedakan dirinya dengan berpegang pada Hadyus Salaf (bimbingan Salaf). Demikianlah seterusnya.
4. Ikatan Al Wala’ dan Al Bara’, saling mencintai dan memusuhi bagi mereka adalah berdasarkan Islam tidak dengan yang lainnya. Mereka tidak menyandarkannya pada suatu hizb dengan nama-nama tertentu dan tidak pula memiliki batasan-batasan hizb-nya masing-masing melainkan pada Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih.
5. Nama-nama ini tidak mengajak umat untuk ber-ta’assub (fanatik) terhadap seseorang pun selain Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa jilid 3/346-347 berkata : “Oleh karena itulah dia mensifatkan Al Firqatu An Najiyah dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka adalah Al Jumhurul Akbar dan As Sawadul A’zham.”
6. Nama-nama ini tidak menjerumuskan pada bid’ah, maksiat dan tidak pula ashabiyah (sifat fanatik) terhadap orang dan kelompok tertentu[21].

Demikianlah keadaan dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah. ]
Pada sisi yang lain, dakwah hizbiyah merupakan kebalikan dari dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagaimana yang telah kami jelaskan pada point hakekat dakwah hizbiyah. Wallahu Al Musta’an.
Jalan Keluar Dari Dakwah Hizbiyah

Timbulnya berbagai macam dakwah hizbiyah adalah akibat menyimpang dari Sunnah dan terjatuhnya mereka ke dalam bid’ah. Hal ini terlihat ketika munculnya golongan sesat yang membawa pemikiran bid’ah dimulai dari syiah rafidlah, khawarij, qadariyah, jabariyah dan yang lainnya. Pada saat itu muncul dakwah yang mengajak untuk mengikuti golongan sesat yang memiliki pemikiran bid’ah tadi dan menyimpang dari Sunnah.

Keadaan ini terus berlanjut hingga masa kita sekarang ini. Oleh karena itu tidak ada jalan keluar dari dakwah hizbiyah melainkan mengembalikannya pada Sabilul Mukminin yaitu Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun (yang memimpin kalian) seorang budak Habsyi. Barangsiapa di antara kalian hidup (setelahku) maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Jauhilah oleh kalian mengada-adakan perkara baru (dalam agama) karena sesungguhnya hal itu adalah sesat. Barangsiapa yang mendapatkan keadaan demikian di antara kamu maka wajib atasnya berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin, gigitlah oleh kamu sekalian (Sunnah-Sunnah) tersebut dengan gigi gerahammu.” (HR. Turmudzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan yang selain mereka, lihat Shahih Turmudzi 2/341-342)
Ibnu Qudamah setelah menyebutkan beberapa dalil dalam masalah kewajiban mengikuti Salafus Shalih mengatakan dalam kitabnya :
“Telah tetap kewajiban mengikuti para Salaf rahimahullah dengan (dalil) Al Quran, Sunnah, dan ijma[22].”

Selanjutnya beliau berkata :
“Jadi sesungguhnya satu-satunya jalan untuk terlepas dari bid’ah dan atsar-atsar yang jelek adalah dengan berpegang teguh pada Al Quran dan As Sunnah, baik dalam bentuk keyakinan, ilmu ataupun amal[23].”
Semua itu dengan bimbingan Salaf, pemahaman dan manhaj serta praktek mereka terhadap dua wahyu yang mulia (Al Quran dan As Sunnah). Dengan demikian mereka adalah orang yang paling besar kecintaannya pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, paling kuat mengikuti beliau, paling banyak keinginannya (untuk itu) dan paling dalam ilmu dan luas pengetahuannya[24].

Jalan keluar dari hizbiyah seperti yang disebutkan di sini sebenarnya adalah jalan yang mudah dan gampang bagi orang yang Allah mudahkan baginya untuk mengikuti Al Haq. Akan tetapi hal ini membutuhkan kesungguhan untuk berilmu dan berdakwah kepadanya. Saling bahu membahu dan tolong-menolong dengan landasan rasa cinta dan persaudaraan di atas Sunnah untuk menjalaninya dan menjauhkan diri dari berbagai macam penyakit hizbiyah (fanatik terhadap golongan/kelompok yang menyempal dari Sunnah) di dalam mengikutinya. Hal itu sesuai dengan firman Allah :
“Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al Maidah : 2)

Penutup
Kami sebagai Muslim Sunny Salafy[25] mengajak kepada saudara-saudaraku sesama Muslim dalam rangka memberikan nasehat kepada mereka untuk senantiasa kembali kepada yang hak, dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan meninggalkan dakwah-dakwah hizbiyyah yang akan membuat kita semua menyimpang dari jalan yang lurus yang telah digariskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan Salafus Shalih radliyallahu ‘anhum.

Ketahuilah! Dakwah-dakwah hizbiyyah itu adalah jalan-jalan setan yang akan menjauhkan kita dari Sabilul Mukminin[26] dan menjerumuskan kita ke dalam lubang perpecahan dan perselisihan karena setiap dakwah yang menyimpang dari Sabilul Mukminin merupakan penyebab perpecahan dan perselisihan walaupun yang mengikuti dakwah tersebut banyak dan berkumpul dalam satu organisasi, satu perkumpulan, satu tandhim (peraturan) atau satu negeri dan selalu mendengungkan persatuan. Akan tetapi sebaliknya dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah jalan yang lurus karena ditegakkan di atas hujjah yang kokoh yang datang dari Allah yakni Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah dakwah yang mengajak kepada Al Jamaah (persatuan) lawan dari Al Firqah (perpecahan) atas dasar berpegang teguh dengan tali Allah sekalipun orang yang mengikutinya hanya satu atau beberapa orang dan tidak berada dalam satu organisasi, kumpulan, tempat, tandhim atau satu negeri.

Sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud :
“Al Jamaah adalah apa-apa yang mencocoki Al Haq walaupun kamu sendirian.” (Dikeluarkan oleh Baihaqi dalam Al Madkhal)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Jikalau Rabbmu menghendaki tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Rabb-mu.” (QS. Huud : 118-119)

Berkata Imam Qatadah :
“Orang-orang yang dirahmati Allah adalah Ahlul Jamaah meskipun terpisah negeri-negeri dan badan-badan mereka. Sedangkan ahlul maksiat (orang-orang yang bermaksiat) kepada-Nya adalah ahlul firqah walaupun berkumpul negeri-negeri dan badan-badan mereka[27].”
Jadi dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah sebenarnya mengajak kepada Al Jamaah (persatuan) atas dasar Al Haq dan menjauhi perpecahan. Dengan ini pula berarti menunjukan kedustaan dakwah-dakwah hizbiyyah seperti ikhwanul Muslimin, jamaah tabligh dan lain-lain dalam ajakan mereka untuk bersatu. Kalaupun seandainya mereka dapat mengumpulkan massa kemudian mereka menamakannya dengan persatuan pada hakekatnya itu hanyalah merupakan perpecahan dari Sabilul Mukminin dan merupakan persatuan dalam subul (jalan jalan syaithan).

Dengan penjelasan di atas telah terbantah seluruh tuduhan yang menyatakan bahwa dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah dakwah hizbiyyah karena Ahlus Sunnah mengajak kembali kepada Sunnah dan bahkan memerangi hizbiyyah. Terbantah pula seluruh tuduhan terhadap para da’i Salafy yang mengajak untuk mengikuti manhaj Salaf, memperingatkan umat agar berhati-hati dari pemikiran-pemikiran ahlul bid’ah yang menyimpang dari manhaj Salaf dan dari para da’i yang tidak memahami manhaj Salaf dengan benar karena seruan itu bukanlah menyeru kepada hizbiyyah.

Padahal mereka (para da’i Salafy) bermaksud dengan dakwah mereka yang demikian adalah agar umat terlepas dari belenggu-belenggu hizbiyyah yang telah dipasang oleh dakwah hizbiyyah.
Adapun tuduhan kepada para pengikut da’i-da’i Salafy tadi bahwa mereka adalah para muqallid adalah tuduhan yang keliru dan batil. Karena para pengikut da’i-da’i Salafy tadi mengikuti mereka bukan semata-mata fanatik tetapi karena mereka berada di atas manhaj Salaf dan jauh dari hizbiyyah. Justru orang-orang yang menuduh mereka muqallid itulah sebenarnya para muqallid, fanatik buta terhadap para pemimpin mereka yang menyimpang dari Sunnah. Para pengikut da’i-da’i Salafy tersebut tidak belajar selain kepada mereka adalah untuk menjaga akal dan pikiran mereka agar tidak dimasuki pemikiran bid’ah yang dilontarkan para ahlul bid’ah dan para da’i yang tidak paham manhaj Salaf, bukan ingin menjadi muqallid. Wallahul Musta’an.

Para Salafus Shalih telah mengajarkan kepada kaum Muslimin cara pengambilan ilmu sebagaimana telah diriwayatkan di dalam Sunan Ad Darimi dari Abul Aliyah dia berkata :
[ Kami apabila mendatangi seorang laki-laki untuk mengambil (ilmu) daripadanya maka kami melihat apabila dia shalat. Maka apabila dia baik dalam shalatnya, kami duduk bersamanya (untuk mengambil ilmu). Kami katakan : “Dia untuk amal yang selainnya lebih baik.” Dan apabila dia buruk dalam shalatnya, kami meninggalkannya (untuk tidak mengambil ilmu). Kami katakan : “Dia untuk amalan yang selainnya lebih buruk lagi.” ] (Sunan Ad Darimi 1/93-94)
Ibrahim An Nakha’i rahimahullah berkata :
“Mereka (Salafus Shalih) apabila mendatangi seseorang untuk mengambil ilmu darinya maka mereka melihat shalatnya, ittiba’-nya terhadap Sunnah dan keadaannya. Kemudian mereka mengambil ilmu darinya.” (Dharuratul Ihtimam Abdus Salam bin Barjas halaman 12)

Inilah manhaj Salafus Shalih dalam pengambilan ilmu. Hal ini juga telah mereka terapkan di dalam pengambilan hadits. Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu berkata :
[ Sesungguhnya kami dahulu apabila mendengar seseorang berkata :
“Bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.”
Maka pandangan-pandangan kami segera tertuju kepadanya dan kami hadapkan telinga-telinga kami kepadanya. (Akan tetapi) tatkala manusia dalam keadaan yang rusak dan hina maka kami tidak menerima dari mereka kecuali apa yang kami ketahui. ]

Ibnu Sirin rahimahullah berkata :
[ Mereka dulunya tidak bertanya tentang isnad (ketika menerima hadits). Maka tatkala terjadi fitnah, mereka berkata (ketika menerima hadits) :
“Sebutkan rijal (perawi-perawi)nya pada kami.”
Maka dilihat jika Ahlus Sunnah diambil hadits mereka dan jika ahlul bid’ah tidak diambil hadits mereka. ] (Muqadimah Shahih Muslim 1/13-15. Lihat Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah Fi Naqdi Ar Rijal DR. Rabi’ Al Madkhaly halaman 37)
Perkataan Ibnu Abbas dan Ibnu Sirin ini memberitahukan kepada kita bahwasanya hal ini adalah madzhab keumuman para Salaf di masa terakhir para shahabat dan orang-orang sesudah mereka dari kalangan tabi’in.

Karena adanya beberapa keterangan di atas inilah orang-orang yang mengikuti dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak belajar kepada para ahlul bid’ah dan para da’i yang telah menampakkan penyimpangan mereka dari manhaj Salaf. Wallahu A’lam.
Maka dengan adanya tuduhan-tuduhan di atas, saya menegaskan kembali bahwa seluruh tuduhan tersebut adalah tuduhan yang muncul dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka hanya ingin merongrong dakwah Salafiyah dengan cara membuat keraguan bagi umat terhadap kebenaran dakwah Salafiyah dan menjatuhkan kepercayaan umat terhadap para da’inya dengan tuduhan yang batil untuk menjelek-jelekkan mereka.

Hal ini mereka lakukan untuk mengumbar hawa nafsu hizbiyyah mereka. Mereka lupa dengan prinsip persatuan umat yang ada pada mereka yang melarang untuk saling menjelek-jelekkan di antara kaum Muslimin yang berakibat timbulnya perpecahan serta mengajak untuk saling mengakui keutamaan masing-masing dan saling memaafkan kesalahan masing-masing walaupun kesalahan itu terdapat pada dasar-dasar dien. Akhirnya karena lupa terhadap prinsip mereka ini, mereka menuduh para da’i Salafy dengan tuduhan yang jelek karena dirasa bahwa para da’i itu merugikan hawa nafsu mereka.

Akan tetapi anehnya mereka tidak melakukan hal yang sama terhadap ahlul bid’ah bahkan mereka justru mengajak untuk inshaf (adil menurut mereka) terhadapnya dengan menutup mata dari kesesatan-kesesatannya dan menonjolkan kebaikan-kebaikannya serta mencari beribu alasan untuk membelanya. Karena ahlul bid’ah tersebut menguntungkan hawa nafsu mereka.

Bertaubatlah kepada Allah wahai para penuduh-penuduh, pengumbar hawa nafsu yang tidak bertanggung jawab sebelum datang ajal kalian dalam keadaan kalian berada di tepi jurang-jurang neraka Jahannam. Kembalilah kepada dakwah Salafiyah! Dan tinggalkan seluruh penyakit hizbiyyah! Apa yang memberatkan kalian untuk meninggalkan para pemimpin kalian yang sesat itu? Apakah kalian tergiur dengan berbagai macam kesenangan dunia yang mereka tawarkan? Maka jangan kalian ganti Dien ini dengan kesenangan dunia yang menipu dan harga dirinya yang sedikit.

Apalah artinya dana yang berbentuk uang atau kesenangan dunia yang menipu dan harga dunia yang sedikit jika dibandingkan dengan pahala yang Allah janjikan bagi kaum Mukminin yang teguh di atas kebenaran di akhirat nanti? Pahala yang berbentuk Surga yang penuh dengan kesenangan dan kenikmatan yang tidak pernah dilihat dengan mata, tidak terdengar dengan telinga, dan tidak pernah terbetik sedikitpun dalam hati manusia selama di dunia. Maka kalau kalian masih memiliki akal yang sehat dan fitrah yang suci, bersegeralah untuk menyelamatkan diri kalian dari adzab Allah yang pedih yang kalian tidak akan sanggup menahannya sedikitpun. Tinggalkanlah para pemimpin kalian terombang-ambing dalam kesesatan mereka karena kalian tidak akan ditanya pada hari kiamat tentang kesesatan mereka.

Ya Allah Yang Maha Hidup dan senantiasa mengurus para makhluk-Nya, Maha Pengampun lagi Penyayang, ampunilah dosa-dosa kami dan perbaikilah amal-amal kami. Serta tunjukilah kami kepada jalan yang Engkau ridlai. Amien ya Rabbal Alamien. Wallahu A’lamu bis Shawab.
________________________________________
[1] Lihat Al Hikmah Fi Dakwah Ilallah. Sa’id Ibnu Ali bin Wahaf Al Qahthany halaman 117.
[2] Lihat Muhaadharah Fi Dakwah Salafiyah. Syaikh Al Albany (Muhadharah yang kedua halaman 10).
[3] Lihat Ushulun Fil Bida’i was Sunnan. Ahmad Muhammad Al Adawy halaman 16.
[4] Pembagian dien pada Ushul dan Furu’ adalah pembagian yang bathil dan merupakan dasar dari dasar-dasar penyebab sesatnya suatu kaum. Lihat Dlaruratu Al Ihtimam bi As Sunnani An Nabawiyah, Abdus Salam Barjas halaman 110-118.
[5] Lihat pula Talbis Iblis karya Ibnul Jauzi halaman 16-17.
[6] Imam Ibnu Abdil Izzi Al Hanafy mengatakan dalam Syarh Aqidah Ath Thahawiyah, diriwayatkan dari Abu Hanifah (tentang) pengutamaan Ali di atas Utsman padahal dhahir madzhabnya adalah mengutamakan Utsman di atas Ali dan ini adalah pendapat kebanyakan Ahlus Sunnah. (Syarh Aqidah Thahawiyah halaman 483)
Ibnu Taimiyah mengatakan dalam fatwanya : “Dan permasalahan ini –masalah pengutamaan antara Utsman dan Ali– tidaklah termasuk dari ushul-ushul (dasar-dasar) yang disesatkan orang yang menyelisihi padanya. Akan tetapi masalah yang disesatkan orang yang menyelisihi padanya adalah permasalahan Khilafah.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah jilid 3 halaman 153)
[7] Lihat Al I’tisham karya Imam Syathibi jilid 2 halaman 264.
[8] Lihat Fathul Bary karya Ibnu Hajar Al Asqalany jilid 13 halaman 63.
[9] Lihat Al Farqu bainal Firaq karya Abdul Qahir bin Thahir Al Baghdady halaman 361.
[10] Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah jilid 3 halaman 157.
[11] Disadur dari Kitab Mas’alat Taqrib baina Ahlus Sunnah was Syiah DR. Nashir bin Abdullah bin Ali Al Qaffary halaman 23-24.
[12] Lihat Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah jilid 3 halaman 159.
[13] Disadur dari Kitab Mas’alat Taqrib Baina Ahlus Sunnah was Syi’ah oleh DR. Nashir bin Abdullah bin Ali Al Qaffary halaman 35-43.
[14] Lihat sikap Salaf dalam masalah ini dalam Kitab Ilmu Ushulul Bida’ karya Syaikh Ali bin Hasan Abdul Hamid Al Atsary, hal. 295-308.
[15] Lihat Salafy edisi perdana rubrik Tafsir halaman 18-26.
[16] Hal ini seperti yang dikabarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, Ahmad, dan yang lain-lain tentang adanya Thaifah Al Manshurah yang akan selalu membela kebenaran hingga datangnya hari kiamat.
[17] Lihat keterangan lebih lanjut dalam masalah ini pada Salafy edisi 2 rubrik Tafsir halaman 32-37.
[18] Para ulama Ahlul Hadits ini adalah Ath Thaifah Al Manshurah yang akan selalu membela kebenaran sebagaimana yang dikabarkan dalam hadits riwayat Imam Muslim, Ahmad, dan lainnya. Pendapat ini adalah pendapat Ibnul Mubarak, Yazid bin Harun, Ibnul Madini, Ahmad bin Hanbal, Bukhari, Khathib Al Baghdady, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Rajab. Lihat Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah Fi Naqdir Rijaal karya Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly halaman 18.
[19] Lihat Ad Da’wah Illallah karya Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Al Atsary halaman 20,73, dan 81.
[20] Sebenarnya perkataan ini adalah perkataan yang pernah diucapkan Ibnu Abbas sebagaimana yang disebutkan oleh Taqiyuddin As Sabky dalam Al Fataawiy 1/148. Kemudian Imam Mujahid mengambil perkataan ini dari beliau sebagaimana disebutkan Ibnul Abdil Baar dalam Jami’ul Bayaanil Ilmu wa Fadllihi 1/191 dan Al Ihkam fi Ushulil Ahkam 1/145. Lalu Imam Malik mengambilnya dari Imam Mujahid. Imam Ahmad bin Hambal juga pernah mengatakan perkataan yang semakna sebagaimana yang telah disebutkan Abu Dawud dalam Masa’il Imam Ahmad halaman 276. (Lihat Hal lil Muslimin Mulzamun Bit Tiba’i Madzhabin Mu’ayyan karya Muhammad Sulthan Al Ma’shumi, tahqiq Syaikh Salim Al Hilali halaman 42)
[21] Lihat Hukmul Intima’ Ilal Firaq wal Ahzab wal Jama’atil Islamiyah oleh Bakr bin Abdullah Abu Zaid halaman 41-43.
[22] Lihat Dzammut Ta’wil oleh Ibnu Qudamah halaman 35.
[23] Lihat Hurmatul Ibtida’ Fid Dien oleh Abu Bakr Al Jazairy halaman 44.
[24] Lihat Ilmu Ushulil Bida’ Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid halaman 314.
[25] Seorang yang menisbatkan pemahamannya kepada para Salaf dengan menyebutkan dirinya sebagai Salafy tidak dapat dikatakan hizbiyah bahkan semestinya seorang Ahlus Sunnah yang mengaku mengikuti Salaf harus menyebutkan dirinya salafy. Karena penisbatan ini adalah penisbatan yang dituntut ketika munculnya berbagai macam kelompok bid’ah. Hal ini serupa dengan orang yang menamakan dirinya Ahlus Sunnah. (Al Ashalah nomor 9 tahun 1414 halaman 86, dinukil dari tulisan Syaikh Al Albany rahimahullah. Lihat Salafy edisi perdana rubrik Mabhats halaman 8-10)
[26] Hal ini semakna dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika menggariskan satu garis lurus lalu mengatakan hal ini jalan Allah yang lurus dan menggariskan garis-garis lain di sebelah kanan dan kini garis lurus tersebut. Lalu mengatakan, ini jalan-jalan yang tidak ada satu jalan pun melainkan ada setan yang menyeru kepadanya. (HR. Ahmad 1/453 dan 465, Ath Thayalisi 244, dan An Nasa’i dalam Al Kubra sebagaimana dalam At Tuhfah 7/49, sanadnya lihat Al Hawadits wal Bida’ Imam Ath Thurthusy tahqiq Syaikh Ali Hasan Al Atsary halaman 32)
[27] Lihat Tafsir Ibnu Katsir cetakan Darul Faiha (Damsyiq) dan Darus Salam (Riyadl) jilid 2 halaman 611.

Sumber : Maktabah As Sunnah

11 03 2010
to mararekang

Kepakkan sayap dengan ilmu
Menjulang dengan ketaqwaan
bukan kesombongan
Tegar dalam perjuangan dakwah
Walau caci maki singgah
Walau angin kencang
terkadang tak tentu arahnya bertiup
Tetap siaga tak terlena
Walau dunia bagai fatamorgana di padang pasir
sekilas nampak begitu gemilang indahnya
Lihatlah dengan mata hatimu
bukan sekedar pandangan dhahirmu
agar kau tahu realitas yang sesungguhnya
Beruntunglah diri yang menemukan jalan kebenaran
Sadar akan hakikat saling berbagi dengan sesama
Bahagialah jadi orang yang terasing dan merdeka
Teguh dalam menjalani kebenaran-Nya

28 02 2010
Muhammad Noor

assalamu alaikum wr.wb..
kadang hidup itu adalah sebuah hal yang indah..
tetapi kadang pula dan tak jarang harus dilalui dengan berbagai cobaan..
tentunya memerlukan sebuah kebijaksanaan dalam mengarunginya..
tak jarang hal itu membuat setiap kita menjadi pribadi yang tangguh bila mampu melaluinya..
atau malah kita terjerumus kepada hal yang sangat terjal..
benar adanya bila seorang pujangga menyatakan bahwa tak ada yang abadi..
dengan maksud bahwa tak ada yang abadi untuk hal keduniaan..
dengan hal tersebut akan menjadikan kita semakin dewasa dalam menuyikapi kehidupan ini..
terus berjuang kawan..

21 02 2010
Muhammad Noor

aslmkm..
dalam bangunan dakwah, banyak hal yang harus dilakukan bagi para aktivisnya..
banyak bagian di dalamnya yang menjadi penopang tiangnya..
tidak mesti seorang aktivis menyampaikan dakwah dengan ucapan/lisannya..
dapat juga dengan tulisan atau mungkin tingkah laku jika tak mampu lisan ini bekerja..
tak semua mesti berada di garis terdepan,karena benteng pertahanan juga perlu orang yang menjaganya…oleh kerana itu, ambillah porsi kalian dalam dakwah ini..jangan sampai kita hanya menjadi penonton atau orang yang berada di bagian kursi vip saat dakwah ini terbang menjulang menemukan kemenangannya..
terus bergeraklah saudaraku…
wassalam

4 02 2010
muslimbusinesssummit

asslamu’alaikum wr wb
Promosi
kunjungi http://www.muslimbusiness summit.wordpress.com
Forum yang dibentuk yang kepanitiannya terdiri dari Studia,Al- mudariss ma Oasis,,,,

Kunjungi Studia.net….
Jl merapi Gg.Merapi 1…
Kelebihanx….
bs gugurin dosa Insya Allah,cz salaman ma swdara….
uangx namabah pemasukan buat studia…..hehe
ma yg lain2…Penasaran,,,,,,knjngi aj !!!!

5 02 2010
almudarris

:) thank’s 4 ur visit.

5 02 2010
Yusuf Al-hirah

ttsssaaaahhhh bhs inggris lah org..
mantapp..

7 02 2010
muhammad azzam

yupz… insyaalloh….. :)

25 01 2010
bonek_geboy

as’salamualaikum…..sy menyukai status abdullah azhar…………..

hewan apa yg paling haram…..???? saatnya kita becandaan……..!!!

26 01 2010
MANTAB

halal halal, haram haram,, jelas antara haq dan bathil..

ana bingung klo pertanyaannya yg paling haram hewan apa?! hehe..

*semoga candaannya jg manfaat ^^

1 02 2010
muhammad azzam

ehm…..
hewan yg diciptakan alloh…..
itu aja dulu…… :)

26 01 2010
MANTAB

Wa’alaikumussalam Warohmatullohi Wabarokatuh……

28 01 2010
Yusuf Al-hijrah

wa’alaikumsalam…
waah ank bonek bs becandaan jg ya.. aq pikir bisax mancing kerusuhan aja kyk di tipi2..

no coment mas.. coba buka Al-quran Insya Allah nemu jawabanx..

25 01 2010
abdullah azhar

Assalamualaikum……moga dengan adanya media ini kita bisa tambah saling menjalin ukhuwah islamiah………^_^

jadilah muslim yang slalu bisa menyenangkan hati saudaranya yang laen……..

26 01 2010
MANTAB

Wa’alaykumussalam Warohmatullohi Wabarokatuh……

Afwan mngkin ana tidak selalu bisa untuk mnyenangkan hati sodaranya, tapi Insya Allah ana berusaha untuk itu akh..

1 02 2010
muhammad azzam

amin ya robb…. :)

18 01 2010
3wahono

subhanallah… luar biasa sekarang ikhwan/akhwat amd mantap-mantap idenya. moga bisa tercapai.. Amin.!!

20 01 2010
Yusuf Al-hijrah

orang yg paling bahagia klo TF ada hot spot pasti dirimu..

hehehe..
piis V

18 01 2010
Irsyad

Subhanalllah…amin…Hebat…hebat…hebat… kalo bisa ada hotspot di TF. Keren idenya akhi Yusuf.

16 01 2010
mustaqim

betul..betul..betul…

hihi..

14 01 2010
hawa

wah hebat studia punya warnet mangtaf

ayooo kapan AMD punya warnet juga hehheheh

14 01 2010
almudarris

silakan nyumbang 10 PC kalo mau… ^^V

14 01 2010
Yusuf-al-hijrah

aamiin… AMD ga perlu punya warnet.. ntr di TF ada hotspot.. jd bs on line spuaaasssnya.. gratiies.

15 01 2010
fajri

Betul…betul…betul

15 01 2010
almudarris

ndak ada kah kata2 yang lebih bagus dari pada “Betul…betul…betul…”??? -_-

16 01 2010
fajri

Mmg mau kata2 pa…betul kan…

15 01 2010
almudarris

Mantap juga idemu, Cup…

8 01 2010
Yusuf Al-hijrah

Wa’alaikumsalam..
Hahahahaha..

Insya Allah ka hadi..
Jgn lupa buka trus blog AMD.. Slain dpt pahala jg dpt ilmu..
Krn didlmx terdpt hal-hal yg dahsyat..
Percaya dch?!

Grattiiisss..

7 01 2010
hadie,,,,,,,,

Assalamu’alaikum,,,,,,,,
hanya ingin promosi,,,,,
sebisa mungkin jika antum sekalian memiliki waktu senggang mampir2 ke sekretariat STUDIA yang baru ya,,,,,,
n n
habiskan uang antum sekalian di STUDIA.Net,,,,,
sebagian penghasilan dari warnet ini akan digunakan dalam jalan DAKWAH yang panjang ini,,,,,

“Orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu (atas keimanannya itu) dan mereka berjuang (berjihad) dengan HARTA dan DIRINYA di jalan dienullah, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya).”
(Q.S. Al-Hujurat : 15)

11 01 2010
almudarris

Wa’alaikumsalam. promosi yang baik sekali ^^

(AYO IKHWAN AKHWAT YANG PUNYA BANYAK DUIT, YANG LAGI PUSING NGERJAIN TUGAS KAMPUS DAN BINGUNG MAU CARI BAHAN DIMANA. SILAKAN DATANG DI STUDIA.NET, MAKA ANDA AKAN DISAMBUT HANGAT OLEH SENYUMAN SANG OP DENGAN SECANGKIR TEH HANGAT DAN SNACK!!!) <—- ini promosi yang berlebihan. tapi sukur2 sudah saya bantuin promosikan. hihi

13 01 2010
3wahono

ya.. Le’ Hadiee

30 12 2009
Yusuf al-hijrah

eh ada ichal..
sering2 maen chal diblog kami..
tlg ksh tw temen2 yg lain yaa…

2 01 2010
almudarris

nah gitu cup, promosikan aja sering2 lah… kena kapan2 lah kita molah pesbuk sorang, hoho

28 12 2009
fachrizal tamin

assalamua’laikum….salam kenal….ehehehehe,,,

semoga blog ini dapat menjadi sebuah wadah bakat2 penulis para mahasiswa mahasiswa “cerdas”……]

^_^

30 12 2009
almudarris

wa’alaikumsalam…
salam kenal juga, ical… ^_^ (udah kenal, ya?)

amiin dah kalo kita cerdas, emang mending jadi orang cerdas daripada orang “pintar”.

24 12 2009
Yusuf al-hijrah

Salaam..
Untuk ank2 TUARRIS eh salah MUDARRIS.. Hehe kiding bro..

Hhmm..
Ayo sahabat qt bngkit.. Berikn sesuatu u/ perjuangan ini.. Walau kecil adax.. Walau qt hnyalah org2 kecil yg merindukn surga..
Dengan sgla keterbatasan meraih ridhoNya.. Ttplah berdiri dan brada dlm barisan yg kokoh n teratur..
Aq takut diantra qt ad yg digantikn oleh kaum yg lebih mencintai Allah.. Dan Allah pun mencintainya..

Istiqomah 4ever.
Aamiin..

14 12 2009
Yusuf al-hijrah

Assalamu’alaikum..
Talk less do more..

Pandai merangkai kata namun tak ada guna..

Ingat, kalian adlh pejuang bkn penyair..

Okeeh.
Keep spirit.

9 12 2009
Yusuf al-hijrah

Assalamu’alaikum..
Ayo bangkit brothers/sisters..
Sprti apa pun dirimu..
Aq dsni u/ mu..
Jlni tangga cahaya..
Mnuju ridho-Nya..
Qul aamantu billaahi summastaqiim..

11 08 2009
shaffila Rose

BISMILLAH, kita berada di sini di bumi Allah hanya untukNya lah kita berjuang, sudah selayaknya kita LURUkan Niat, Rapatkan Barisan, dan Berjuang hanya benar-benar untuk ALLAH

25 07 2009
to mararekang

Assalamualaikum, wr.wb!
Good luck bwt saudar/i ku sekalian…..
InsyaAllah kita kan saling mendo’akan dlm perjuangan….

29 06 2009
Muhammad Noor

Assalamu ‘alaikum wr.wb
Permisi, numpang ya..
tongkat estafet perjuangan terus berjalan..
bangunan Islam akan tegak..
entah kapan…
semoga kita menjadi bagian di dalam bangunan tersebut..
jangan mau hanya menjadi penonton, atau pemeran figuran..
Jadilah pemeran utamanya..
Jadilah apa yang kalian mampu lakukan..
kita yang butuh Islam, bukan islam yang butuh kita..
Terus berjuang wahai saudaraQ..tegakkan kalimat Allah Di bumi ini..
Semoga Allah SWT selalu memberikan ridho’ terhadap perjuangan teman-teman..
Amien ya robbal ‘alamien..
Wassalam..

29 06 2009
almudarris

Amin…

iya disini kita berusaha dengan sekecil2nya apa yang kita punya untuk berjuang dalam rangka li illikalimatillah, entah kapankah itu yang penting kita g berhenti sampe tetes keringat penghabisan, terima kasih saudaraku, moga Allah memberkahimu,..

10 03 2010
Nurhayati Azizah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Maha Suci ALLAH yg Maha Menggenggam segalanya…
Smoga ALLAH mmbrikan kmudahan bagi klian dlm mnciptakan wadah bagi para generasi muda lainnya utk mmbangun & menegakkan syariat Islam, yaitu Syariat yg diridhai ALLAh Subhanahu Wa Ta’ala…. Amin Yaa Robbal A’lamiin

Wassalam,

T. NUY

16 03 2010
almudarris

Ella Layla Abdullah : Ya Amplop teh nuy jaoh amat ampe nyasar kesini??? T_T gpp dah yang penting silaturahimnya, apa kabar teh? lamanya ndak “ketemu”.

10 06 2009
11 04 2009
Ibnu Yunus

Assalamu’alaykum wr wb…
Saudara-saudara ana yg ana cintai krna Allah…
Yg ridho Allah sbgai Robb-Nya..
Yg rela dngan Jiwa dan Hartanya bergerak berjuang di jalan-Nya..
Smg pertemuan qta di dunia berlanjut di pertemuan kita di akhirat..
Akhirat yg kita nanti, smg kita meraih Jannah-NYa terhindar dari azab Neraka-Nya..
Aamiinn…

(Ktika berpikir ttg kalian, hati ini slalu merindu.
Trkadang terharu, trsenyum, menangis, srta trtwa bila mmkirkan apa yg telah kita jalani brsama di dalam dien Islam yg indah ini. Smua terasa berkesan.)

25 02 2009
M_NAsr_alfath

Sesungguhnya Dien Itu Hanya akan Dipikul oleh Orang_Orang Bertekad Baja, Istiqamah wahai saudaraku dan berdoalah agar akhir hidup kita, kita tetap istiqamah dalam memegang komitmen walau kematian taruhannya

11 10 2008
salim_khan

Assalamu’alaikum… ikhwan wa akwat fillah yg sngat kucintai krna Allah SWT ^_^……
Perjuangan btuh pngorbanan (ya iyalah)…
korban prasaan, korban tnaga, materi, dll….
dgn sgala pngorbanan itulah yg akan mnjadi bukti perjuangan kita dihadapan Allah SWT kelak!
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…!!!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 228 pengikut lainnya.